POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM

Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)

Penyakit ginjal kronis (CKD) merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal yang progresif dan tidak dapat dipulihkan. Salah satu komplikasi utama CKD adalah anemia, yang disebabkan oleh penurunan produksi eritropoietin (Epo) oleh ginjal. Terapi Epo digunakan untuk merangsang produksi sel darah merah. Hitung retikulosit dipakai sebagai indikator aktivitas eritropoietik, sementara kadar kreatinin mencerminkan derajat kerusakan ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan kadar kreatinin dan nilai retikulosit antara pasien CKD yang menerima terapi Epo dan yang tidak menerima terapi Epo. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel terdiri dari 60 pasien CKD yang dibagi menjadi dua kelompok: 30 pasien dengan terapi Epo dan 30 pasien tanpa terapi Epo. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan dianalisis menggunakan uji T independen. Rata‑rata kadar kreatinin pada kelompok Epo adalah 3,96 mg/dL, sedangkan pada kelompok non‑Epo adalah 1,83 mg/dL. Nilai rata‑rata retikulosit pada kelompok Epo adalah 0,64%, sementara pada kelompok non‑Epo adalah 1,49%. Hasil uji statistik T independen menunjukkan nilai P untuk kadar kreatinin sebesar 0,000 (<0,05) dan nilai P untuk retikulosit sebesar 0,002 (<0,05). Terdapat perbedaan signifikan pada kadar kreatinin dan nilai retikulosit pada pasien CKD yang menjalani terapi Epo dan non‑Epo.

Hasil uji T independen pada pasien yang menerima terapi Epo dan non‑Epo menunjukkan nilai p sebesar 0,003 < 0,05 untuk tingkat kreatinin dan 0,002 < 0,05 untuk retikulosit, yang berarti terdapat perbedaan signifikan pada tingkat kreatinin dan nilai retikulosit antara pasien yang menjalani terapi Epo dan non‑Epo.

Penelitian lanjutan dapat mengevaluasi efektivitas terapi eritropoietin pada pasien CKD dengan menginvestigasi hubungan longitudinal antara tingkat kreatinin, kadar retikulosit, dan respon klinis selama periode waktu yang lebih panjang, sehingga dapat mengidentifikasi perubahan dinamis pada fungsi ginjal dan produksi sel darah merah. Selanjutnya, diperlukan studi eksperimental untuk meneliti peran defisiensi besi, vitamin B12, atau folat dalam fenomena hiporespons EPO yang terdeteksi pada kelompok pasien Epo, dengan menguji apakah suplementasi nutrisi tersebut dapat meningkatkan kadar retikulosit dan mengurangi resistensi terhadap terapi. Selain itu, penelitian observasional multisentris dengan sampel yang lebih besar dapat menggali faktor-faktor risiko seperti inflamasi kronis, status gizi, dan komorbiditas yang berkontribusi pada variasi respons EPO, serta mengembangkan model prediktif untuk mengoptimalkan penentuan dosis EPO pada populasi CKD. Penelitian ketiga dapat memfokuskan pada evaluasi biomarker alternatif, misalnya kadar hepcidin atau parameter hematologi lain, untuk menilai keakuratan dalam memprediksi respons terapi eritropoietin dibandingkan dengan retikulosit saja. Semua usulan tersebut diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat untuk meningkatkan strategi manajemen anemia pada pasien CKD.

Read online
File size270.81 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test