POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)Malnutrisi pada balita tetap menjadi tantangan penting di Kabupaten Lombok Barat, dengan prevalensi stunting mencapai 32,7% pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem klasifikasi status gizi balita menggunakanλλον XGBoost dengan penanganan ketidakseimbangan kelas melalui SMOTE. Dataset terdiri dari 788 balita berusia 24–59 bulan dari 12 desa di Kabupaten Lombok Barat. Tahap pra‑proses meliputi penyaringan nilai biologis tidak valid berdasarkan kriteria WHO, normalisasi menggunakan Minқты‑Max Scaler, serta rekayasa fitur melalui rasio antropometri seperti weight‑for‑height (WHZ) dan height‑for‑age (HAZ). Data dibagi secara stratifikasi 80:20, dan SMOTE diterapkan hanya pada set pelatihan. Evaluasi dengan macro F1‑score dan recall kelas minoritas menunjukkan XGBoost memperoleh F1‑score 94,3% dan recall 92,1% untuk malnutrisi berat, secara signifikan mengungguli Random Forest (89,7%), KNN (84,2%), Naïve Bayes (81,5%), dan Decision Tree (83,8%). Prototype berbasis Streamlit juga dikembangkan sebagai antarmuka praktis bagi tenaga kesehatan posyandu, dilengkapi alat prediksi, visualisasi distribusi, dan rekomendasi rujukan otomatis. Hasilnya menunjukkan bahwa XGBoost bersamaan dengan SMOTE efektif meningkatkan deteksi dini kasus malnutrisi minoritas dalam populasi yang tidak seimbang, mendukung target pengurangan stunting.
This study concludes that the XGBoost model combined with SMOTE is highly effective for classifying toddler nutritional status in West Lombok, achieving a Macro F1-Score of 0.8434 and a Severe Malnutrition recall of 90.Analysis identified Weight and Weight-for-Age Z-score as the most critical predictors (77.4% combined contribution), while the developed Streamlit-based web prototype offers a significant improvement over manual screening systems by detecting 100% of severe malnutrition cases in testing.Despite its success, the study noted limitations in overnutrition detection and missing MUAC data, suggesting that future integration with regional health information systems (SIKDA) and the inclusion of dietary history could further enhance its practical implementation at the puskesmas and posyandu levels.
Pertama, perlu dilakukan uji coba menambahkan data asupan nutrisi harian ke dalam input XGBoost untuk mengevaluasi apakah hal ini dapat mengurangi ketidakseimbangan kelas overnutrition pada balita. Kedua, penelitian lapangan yang memanfaatkan aplikasi mobile berbasis prototipe Streamlit di posyandu akan menilai sejauh mana tenaga kesehatan dapat menggunakan sistem tersebut dalam kehidupan sehari‑harinya, beserta peningkatan akurasi prediksi yang terjadi. Ketiga, di samping itu, komparasi kinerja XGBoost dengan algoritma pembelajaran mendalam seperti LSTM yang memanfaatkan urutan data pertumbuhan kronologis dapat mengungkap apakah pendekatan berbasis jaringan saraf menawarkan sensitivitas yang lebih tinggi pada kasus minoritas. Keempat, penelitian longitudinal selama satu tahun tentang dampak intervensi otomatis yang dihasilkan oleh prototipe Streamlit terhadap menurunkan prevalensi stunting di tingkat puskesmas dan posyandu akan memberikan bukti kuat tentang manfaat sistem dalam praktik klinis. Kelima, integrasi sistem klasifikasi ini ke dalam Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) akan mengoptimalkan pemantauan real‑time berkelompok, memfasilitasi respons cepat terhadap perubahan status gizi berkelanjutan. Keenam, penambahan modul pelaporan geospasial pada platform dapat membantu pihak berwenang menentukan zona rawan berdasarkan data prediksi gizi balita. Ketujuh, masing‑masing desa dapat memanfaatkan dashboard ini untuk memprioritaskan program intervensi seperti pemberian suplemen atau edukasi gizi. Kedelapan, analisis biaya‑manfaat dari implementasi sistem akan mengidentifikasi return on investment bagi pemerintah daerah dalam menurunkan angka stunting. Kesembilan, pengembangan pelatihan dan bimbingan bagi tenaga kesehatan posyandu seharusnya disertakan guna memastikan penggunaan sistem secara konsisten dan akurat. Kesepuluh, evaluasi kepuasan pengguna melalui survei dapat menilai persepsi tenaga kesehatan dan menyarankan perbaikan antarmuka agar lebih ramah pengguna.
- XGBoost | Proceedings of the 22nd ACM SIGKDD International Conference on Knowledge Discovery and Data... dl.acm.org/doi/10.1145/2939672.2939785XGBoost Proceedings of the 22nd ACM SIGKDD International Conference on Knowledge Discovery and Data dl acm doi 10 1145 2939672 2939785
- Childhood stunting: a global perspective - Onis - 2016 - Maternal & Child Nutrition - Wiley Online... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/mcn.12231Childhood stunting a global perspective Onis 2016 Maternal Child Nutrition Wiley Online onlinelibrary wiley doi 10 1111 mcn 12231
| File size | 188.89 KB |
| Pages | 5 |
| DMCA | Report |
Related /
POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM Salah satu komplikasi utama CKD adalah anemia, yang disebabkan oleh penurunan produksi eritropoietin (Epo) oleh ginjal. Terapi Epo digunakan untuk merangsangSalah satu komplikasi utama CKD adalah anemia, yang disebabkan oleh penurunan produksi eritropoietin (Epo) oleh ginjal. Terapi Epo digunakan untuk merangsang
POLTEKKES PALEMBANGPOLTEKKES PALEMBANG Hasil pemeriksaan menunjukkan titer Rheumatoid Factor (RF) pada sampel RF. 1 sebesar 128 IU/mL dan sampel RF. Oleh karena itu, penting bagi masyarakatHasil pemeriksaan menunjukkan titer Rheumatoid Factor (RF) pada sampel RF. 1 sebesar 128 IU/mL dan sampel RF. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat
POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM Berdasarkan hasil penelitian, tidak ditemukan asosiasi signifikan antara jumlah leukosit dengan hasil antigen NS‑1 pada pasien yang dicurigai DHF. namun,Berdasarkan hasil penelitian, tidak ditemukan asosiasi signifikan antara jumlah leukosit dengan hasil antigen NS‑1 pada pasien yang dicurigai DHF. namun,
POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM paratyphi A 12,0 g/dL dan S. paratyphi B Conf 12,6 gsut. Nilai hemoglobin lebih rendah pada titrasi 1/320 dibanding 1/160 pada S. typhi, menunjukkanparatyphi A 12,0 g/dL dan S. paratyphi B Conf 12,6 gsut. Nilai hemoglobin lebih rendah pada titrasi 1/320 dibanding 1/160 pada S. typhi, menunjukkan
POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM Penelitian ini menunjukkan kenaikan empat kali lipat pada jumlah trombosit setelah persiapan PRP, dari 190,6×103 sel/µL menjadi 781,1×103 sel/µL. TemuanPenelitian ini menunjukkan kenaikan empat kali lipat pada jumlah trombosit setelah persiapan PRP, dari 190,6×103 sel/µL menjadi 781,1×103 sel/µL. Temuan
POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM Hasil menunjukkan hemoglobin tetap stabil sekitar 8,2‑8,3 g/dL, urea terreduksi drastis, kreatinin menurun secara signifikan, dan albumin mengalamiHasil menunjukkan hemoglobin tetap stabil sekitar 8,2‑8,3 g/dL, urea terreduksi drastis, kreatinin menurun secara signifikan, dan albumin mengalami
POLTEKKES MKSPOLTEKKES MKS Penelitian ini dilakukan di RSUD. Chasan Boesorie Kota Ternate, data penelitian ini diperoleh dari data primer dengan menggunakan metode deskriftif observasionalPenelitian ini dilakukan di RSUD. Chasan Boesorie Kota Ternate, data penelitian ini diperoleh dari data primer dengan menggunakan metode deskriftif observasional
POLTEKKES MKSPOLTEKKES MKS Nefropati diabetik merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada penderita Diabetes Melitus (DM) yang ditandai dengan penurunan pada fungsi ginjal.Nefropati diabetik merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada penderita Diabetes Melitus (DM) yang ditandai dengan penurunan pada fungsi ginjal.
Useful /
UINSAIDUINSAID The study contributes to Islamic and media studies by highlighting the continuing relevance of Islam Sontoloyo as a framework for understanding contemporaryThe study contributes to Islamic and media studies by highlighting the continuing relevance of Islam Sontoloyo as a framework for understanding contemporary
UNRIUNRI Perbedaan komposisi media tanam berpengaruh sangat nyata pada tinggi, berat basah, dan berat kering semai, serta pada diameter dan jumlah daun, tetapiPerbedaan komposisi media tanam berpengaruh sangat nyata pada tinggi, berat basah, dan berat kering semai, serta pada diameter dan jumlah daun, tetapi
POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM Kesimpulan penelitian menyatakan tidak ada perbedaan signifikan kadar glukosa darah antara pengguna kontrasepsi suntik 1‑bulan dan 3‑bulan, meskipunKesimpulan penelitian menyatakan tidak ada perbedaan signifikan kadar glukosa darah antara pengguna kontrasepsi suntik 1‑bulan dan 3‑bulan, meskipun
POLTEKKES PALEMBANGPOLTEKKES PALEMBANG Hasil: Pada fase intensif, 75% subjek mengalami penurunan Hb, 25% memiliki kadar normal, dan tidak ada peningkatan Hb. Pada fase lanjutan, persentase penurunanHasil: Pada fase intensif, 75% subjek mengalami penurunan Hb, 25% memiliki kadar normal, dan tidak ada peningkatan Hb. Pada fase lanjutan, persentase penurunan