POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM

Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)

Penyakit ginjal kronik (CKD) merupakan penurunan tùt fungsi ginjal secara progresif, sehingga menangani limbah dan keseimbangan metabolik menjadi tidak efektif. Penurunan produksi eritropoietin pada CKD menyebabkan anemia, sementara hipoalbuminemia dan peningkatan urea serta kreatinin connexion menjadi indikator penting pengukuran fungsi ginjal. Hemodialisis merupakan metode utama pengganti filtrasi ginjal, namun tingkat keefektifannya terhadap parameter laboratorium—hemoglobin, urea, kreatinin, dan albumin—bergantung pada frekuensi sesi. Penelitian observasional analitik (cross‑sectional) ini mengevaluasi efek hemodialisis dua kali seminggu pada 32 pasien CKD di Rumah Sakit Praya pada bulan Mei 2025. Hasil menunjukkan hemoglobin tetap stabil sekitar 8,2‑8,3 g/dL, urea terreduksi drastis, kreatinin menurun secara signifikan, dan albumin mengalami peningkatan berkelanjutan selama enam bulan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa frekuensi dua kali seminggu efektif menurunkan limbah metabolik dan mempertahankan albumin, namun belum cukup untuk mengatasi anemia.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi hemodialisis dua kali seminggu efektif dalam menurunkan tingkat urea dan kreatinin serta mempertahankan konsentrasi albumin yang stabil, namun tidak secara signifikan meningkatkan kadar hemoglobin.Untuk mengatasi anemia yang persisten pada pasien CKD, manajemen klinis harus mencakup pemantauan hemoglobin secara rutin dan mempertimbangkan terapi tambahan eritropoietin guna mendukung proses dialisis.

Penelitian lanjutan dapat dimulai dengan menguji apakah peningkatan frekuensi hemodialisis menjadi tiga kali seminggu dapat menurunkan hemoglobin lebih signifikan dibandingkan dua kali seminggu, sehingga memeriksa hubungan antara frekuensi dan efektivitas pengobatan anemia. Selanjutnya, studi terkohorte longitudinal dengan jumlah sampel yang lebih besar akan memberikan gambaran jangka panjang tentang dampak frekuensi dan kualitas hidup pasien CKD, sekaligus menilai peran nutrisi dan kebugaran fisik. Terakhir, perbandingan antara agar terapi eritropoietin bersamaan dengan hemodialisis dua kali seminggu dapat dievaluasi dalam desain randomised controlled trial, guna menentukan apakah kombinasi terapi ini meningkatkan hasil klinis dan mengurangi komplikasi anemia pada pasien GFR rendah.

Read online
File size183.52 KB
Pages4
DMCAReport

Related /

ads-block-test