UBUB

Jurnal Transformative: Ilmu PemerintahanJurnal Transformative: Ilmu Pemerintahan

Tulisan ini bermaksud menjelaskan interaksi simbol identitas mayoritas yang diletakkan di ruang publik masyarakat plural pasca regulasi otonomi daerah. Studi kasus yang digunakan adalah simbolisasi Islam di ruang publik Kota Tangerang pada tahun 2010. Tulisan ini memaparkan interpretasi pemerintah dan masyarakat terhadap kehadiran simbol identitas mayoritas. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada 34 responden, observasi, catatan lapangan dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa maksud dan tujuan pemerintah meletakkan simbol pada ruang publik dipahami dengan baik namun bahasa mayoritas menutupi maksud kebaikan pemerintah untuk mengedukasi masyarakat. Pemerintah Kota Tangerang menganggap penggunaan bahasa mayoritas pada simbol merupakan sesuatu yang wajar, namun responden mengharapkan penggunaan bahasa netral. Kebijakan simbolisasi Islam di ruang publik Kota Tangerang tidak melibatkan partisipasi publik, sehingga responden menganggap kebijakan tersebut gagal menjawab kebutuhan publik. Fenomena simbolisasi Islam yang terjadi di Kota Tangerang menyebabkan ruang interaksi antara pemerintah dan masyarakat Kota Tangerang. Ruang publik menjadi arena komunikasi sekaligus kritik masyarakat demokratis. Simbolisasi Islam menyebabkan ketimpangan kesetaraan kelompok minoritas di ruang publik.

Simbolisasi Islam di ruang publik Kota Tangerang dipahami secara luas namun menimbulkan rasa eksklusif karena penggunaan bahasa mayoritas.Kebijakan tidak mengikutsertakan partisipasi publik, sehingga dianggap tidak memenuhi kebutuhan masyarakat.Praktik ini menimbulkan ketimpangan terhadap kelompok minoritas, sehingga politik pengakuan kesetaraan dapat menjadi respons yang relevan.

1. Mengkaji persepsi masyarakat lewat studi survei tentang dampak penggunaan tulisan asli dan terjemahan multibahasa dalam simbol publik, sehingga dapat menilai apakah bahasa netral meningkatkan inklusi. 2. Melakukan analisis komparatif antara kota-kota yang memuat simbol identitas mayoritas dengan kota lain yang menggunakan simbol sekular, untuk menilai perbedaan dampak pada dinamika sosial dan persepsi minoritas. 3. Membangun prototipe kebijakan simbol publik berbasis partisipasi komunitas, di mana masyarakat setempat terlibat dalam perancangan desain dan pesan simbol, sehingga dapat menguatkan dialog lintas identitas dan mengurangi ketidaksetaraan. 4. Mengevaluasi efektivitas pendekatan politik pengakuan kesetaraan melalui studi longitudinal di kota-kota yang telah menerapkan kebijakan simbol multikultural, dapat memberikan bukti empiris tentang keberhasilan strategi inklusif.

  1. Simbol Mayoritas di Ruang Publik Masyarakat Plural: Simbolisasi Islam di Kota Tangerang | Jurnal Transformative:... transformative.ub.ac.id/index.php/jtr/article/view/71Simbol Mayoritas di Ruang Publik Masyarakat Plural Simbolisasi Islam di Kota Tangerang Jurnal Transformative transformative ub ac index php jtr article view 71
Read online
File size258.67 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test