UNARUNAR

Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia (Indonesian Health Scientific Journal)Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia (Indonesian Health Scientific Journal)

Bencana banjir sering kali meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular di daerah terdampak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi penyakit menular seperti diare, demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan penyakit kulit campak selama dan setelah bencana banjir di Desa Sipange Siunjam, Kecamatan Sayurmatinggi, serta mengevaluasi sistem surveilans kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Studi ini dilakukan oleh mahasiswa Universitas Aufa Royhan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yaitu dengan case study. Populasi pada penelitian ini adalah kepala keluarga yang terpapar pasca banjir yang dipilih secara purposive sampling sebanyak 22 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur kuesioner pada Kamis, 19 Desember 2024, dengan teknik pengumpulan data yang meliputi survei lapangan dan pemberian kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penyakit pasca-banjir yaitu diare memiliki jumlah kasus tertinggi dengan 11 (50%) dari total kasus, menunjukkan bahwa penyakit ini paling dominan dalam data yang disajikan. Demam berdarah dengue menempati urutan kedua dengan 5 (22,73%) kasus, yang masih cukup signifikan dibandingkan penyakit lainnya. Malaria berada di posisi ketiga dengan 4 (18,18%) kasus, sementara campak memiliki jumlah kasus paling sedikit, yaitu 2 (9,09%) kasus. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perbaikan strategi pencegahan dan penanganan penyakit menular pada situasi darurat bencana di masa mendatang.

Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa bencana banjir di Desa Sipange Siunjam meningkatkan risiko penyakit menular, dengan diare sebagai kasus terbanyak (50%), diikuti oleh demam berdarah dengue (22,73%), malaria (18,18%), dan campak (9,09%).Faktor utama yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit ini adalah buruknya sanitasi, keterbatasan akses air bersih, serta genangan air yang menjadi tempat berkembang biak vektor penyakit.Analisis statistik menunjukkan bahwa faktor individu seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, dan pekerjaan tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian penyakit, sehingga perbaikan kondisi lingkungan lebih diperlukan dalam pencegahan.Untuk mengurangi dampak kesehatan pasca-banjir, diperlukan upaya seperti peningkatan surveilans penyakit menular, penyediaan air bersih, serta edukasi masyarakat tentang kebersihan dan pencegahan penyakit.Pengendalian vektor seperti nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles juga harus diperkuat melalui fogging dan pemberantasan sarang nyamuk.Penelitian ini diharapkan menjadi dasar bagi perbaikan strategi mitigasi bencana, khususnya dalam respons cepat terhadap potensi wabah penyakit di daerah terdampak banjir.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada studi kualitatif tentang pengalaman masyarakat dalam menghadapi risiko penyakit pasca-banjir, khususnya peran kebijakan lokal dalam memperkuat sistem surveilans kesehatan. Selain itu, penelitian bisa mengeksplorasi efektivitas inovasi teknologi seperti aplikasi pemantauan vektor nyamuk secara real-time untuk memprediksi penyebaran penyakit. Terakhir, penelitian lanjutan dapat menyelidiki dampak jangka panjang dari kekurangan akses air bersih terhadap kesehatan anak-anak di daerah rawan banjir, termasuk intervensi pendidikan kesehatan yang berkelanjutan.

Read online
File size631.77 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test