UBUB

Jurnal Transformative: Ilmu PemerintahanJurnal Transformative: Ilmu Pemerintahan

Artikel ini mengeksplorasi praktek dinasti politik di Sulawesi Tenggara. Pemilu yang semestinya merupakan kontestasi demokrasi yang sehat, justru menjadi ajang para elit lokal di Sulawesi Tenggara untuk membangun dan memperkuat dinasti politik sejak Pemilu 2014. Para anggota legislatif terpilih pada Pemilu 2019 di Sulawesi Tenggara banyak berasal dari keluarga politik—keluarga bupati, walikota dan ketua partai. Sebanyak sepuluh kepala daerah dari tujuh belas kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara, sukses meloloskan keluarga mereka sebagai anggota legislatif mulai dari DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, hingga DPR dan DPD. Keterpilihan kerabat elit politik lokal ini menjadi ancaman dalam mewujudkan demokrasi yang subtansial, kompetitif dan berkualitas. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dan pengamatan. Hasil penelitian ditemukan, dinasti politik berkembang di Sulawesi Tenggara dalam dua model yaitu dinasti yang tumbuh dari keluarga governing elite dan keluarga non governing elite. Keberadaan dinasti politik ini ditopang oleh empat hal: pertama, pragmatisme dan praktek oligarki partai politik; kedua, tumbuh suburnya politik uang dan politisasi birokrasi; ketiga, lemahnya pengawasaan Bawaslu dan jajarannya; keempat, budaya politik yang kolutif dan paternalistik.

Dinasti politik di Sulawesi Tenggara telah mengakar kuat sejak lama.Pada Pemilu 2014 & 2019, dinasti politik semakin menghawatirkan dan mengancam eksistensi demokrasi.Kemunculan dinasti politik di Sulawesi Tenggara dapat dikategorikan dalam dua model yaitu dinasti yang muncul dari keluarga governing elite (elite yang sedang memerintah) dan non-governing elite (elite yang tidak memerintah).Keluarga governing elite tampak sangat mendominasi keterpilihan keluarga dinasti pada pemilu 2019.Ini menujukkan bahwa faktor jabatan dan kepemilikan sumber daya menjadi faktor kemenangan mereka.Keberadaan dinasti selain memperkecil peluang lahirnya pemimpin politik yang berasal luar keluarga mereka, juga sangat mungkin melemahkan fungsi kontrol legislatif terhadap eksekutif.Setidaknya ada empat faktor dinasti politik tumbuh kembang di Sulawesi Tenggara yaitu.pertama, pragmatisme dan praktek oligarki partai politik.kedua, tumbuh suburnya politik uang dan politisasi birokrasi.keempat, budaya politik yang kolutif dan paternalistik.

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan. Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam tentang praktik dinasti politik di Sulawesi Tenggara, terutama terkait dengan faktor-faktor yang mendukung berkembangnya dinasti politik di daerah tersebut. Kedua, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis dampak dinasti politik terhadap kualitas demokrasi di Sulawesi Tenggara, termasuk dalam hal kontrol legislatif terhadap eksekutif. Ketiga, penelitian juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi strategi-strategi yang dapat digunakan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh dinasti politik di Sulawesi Tenggara, serta mendorong terciptanya demokrasi yang lebih kompetitif dan berkualitas.

  1. ‘Musim Semi’ Dinasti Politik Pada Pemilu 2019 Di Sulawesi Tenggara... doi.org/10.21776/ub.transformative.2020.006.01.6yCuMusim SemiyCE Dinasti Politik Pada Pemilu 2019 Di Sulawesi Tenggara doi 10 21776 ub transformative 2020 006 01 6
Read online
File size316.49 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test