UIN BANTENUIN BANTEN

Attention Required! | CloudflareAttention Required! | Cloudflare

Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk meninjau perilaku tawuran pelajar SMK di Jakarta berdasarkan perspektif Bimbingan dan Konseling. Tujuan penelitian ini secara khusus adalah memberikan edukasi dan rekomendasi khususnya kepada sekolah terkait bagaimana menangani kasus tawuran pelajar di SMK. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, studi dokumentasi, dan informasi audio visual. Analisis data yang digunakan diantaranya melalui beberapa prosedur, yaitu melakukan pemeriksaan keabsahan data melalui teknik triangulasi, melakukan sintesa, analisis, interpretasi data, serta membuat kesimpulan akhir berupa proposisi. Hasil dan pembahasan penelitian adalah: 1) tawuran disebabkan karena kondisi mental psikologis pelajar SMK yang belum dewasa; 2) pelajar kesulitan menemukan identitas dirinya, akhirnya memilih tawuran sebagai wujud pengungkapan identitas diri; 3) solidaritas pertemanan yang solid, dimana solidaritas dijadikan rasa persatuan yang solid; 4) validasi lingkungan sosial, dimana pelajar membutuhkan pengakuan agar bisa diterima dengan baik di lingkungan pertemanan sebaya; 5) pola asuh orang tua, dimana orang tua sangat kesulitan untuk mengontrol dan mengawasi aktivitas anaknya.

Tawuran adalah perilaku agresif yang dilakukan pelajar SMK sebagai bentuk pengungkapan identitas diri, validasi lingkungan sosial, solidaritas pertemanan, perkembangan mental psikologis yang belum dewasa, dan kesalahan pola asuh orang tua di rumah.Tawuran yang diamati peneliti adalah wujud dari bentuk dari tindakan kriminal, penganiayaan, pencurian, dan perusakan fasilitas umum.Tawuran berdampak pada kondisi fisik dan psikis pada korban.Fisik korban mengalami luka berat dan kecacatan, sementara psikis korban mengalami trauma.Tinjauan Bimbingan dan Konseling adalah berupaya memberikan edukasi dan pemahaman psikologis kepada pelajar SMK yang terlibat tawuran.Edukasi diberikan guru BK kepada seluruh pelajar yang ada di sekolah.Pemahaman psikologis bisa diberikan dengan mengundang psikolog ke sekolah untuk memberikan pemahaman psikologis kepada pelajar.Peran guru BK disini terbatas hanya pada memberikan edukasi serta rekomendasi.Guru BK dibatasi kewenangannya karena perannya hanya guru biasa, adapun penentu dan pengambil kebijakan adalah kepala sekolah, bukan guru BK.Guru BK hanya sekedar menyampaikan ide dan gagasan, namun kepala sekolah yang memutuskan apakah usulan dari guru BK diterima atau ditolak.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk melakukan intervensi psikologis yang holistik, yang mencakup aspek kesejahteraan mental dan emosional remaja. Pendekatan ini dapat difokuskan pada menciptakan lingkungan pendidikan dan masyarakat yang mendukung pertumbuhan positif, mempromosikan dialog, serta memberikan sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi konflik tanpa kekerasan. Selain itu, penting untuk meningkatkan peran guru sebagai pembimbing dan fasilitator dialog konstruktif, serta melibatkan keluarga dan komunitas dalam mendeteksi potensi konflik sedini mungkin. Dengan demikian, dapat diciptakan iklim sekolah yang lebih positif dan mendukung bagi generasi muda.

  1. Pengaruh Pola Asuh Permisif Terhadap Pelaku Tawuran Pelajar SMA di Sukabumi | Dimensia: Jurnal Kajian... doi.org/10.21831/dimensia.v12i1.60865Pengaruh Pola Asuh Permisif Terhadap Pelaku Tawuran Pelajar SMA di Sukabumi Dimensia Jurnal Kajian doi 10 21831 dimensia v12i1 60865
Read online
File size295.04 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test