STFTKIJNESTFTKIJNE

MURAI: Jurnal Papua Teologi KonstekstualMURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual

Endapan pandemi covid-19 masih menjadi persoalan dalam sistem belajar dan mengajar di kelas. Gangguan Kesehatan mental yang semakin membuncah dan kebiasaan tatap layar terbawa turut masuk ke dalam proses tersebut. Fenomena ini membuat atmosfer kelas menjadi tidak bergairah. Tidak jarang peserta didik terlihat berada dalam kehadiran yang tarik diri dari pelajaran yang sedang berlangsung. Mereka menjadi lelah (fatigue). Penulis memahami gejala ini dari sudut teori yang ditawarkan oleh Philibert dkk pentingnya “everyday self care, kepedulian diri dalam keseharian. Teori ini dapat menolong untuk mencari alternatif baru di ruang kelas agar setiap warga dapat sadar dan peduli kepada dirinya setiap waktu. Penciptaan kesadaran ini membutuhkan intervensi. Model intervensi ini dipinjam dari ilmu penggembalaan. Tulisan ini menawarkan model-model penggembalaan untuk menciptakan kelas yang memiliki daya resiliensi dan kekuatan pemulihan bagi warganya. Model-model ini lahir dari pemahaman konteks dalam metafora ekologis. Melalui penelitian penulis menemukan pertama, ilmu penggembalaan memiliki peralatan yang cukup untuk mengembangkan model-model pemulihan dalam kelas. Meskipun demikian perlu disadari bahwa kekhasan intervensi penggembalaan selalu bersifat kontekstual. Kedua model-model yang bisa menjadi alternatif bagi penciptaan ruang kelas yang flourishing, mekar. Penulis menyebut intervensi dengan nama pemulihan ekologis. Sebagai sebuah metafora tawaran mengandaikan kehadiran aktivitas yang sederhana dan berkesinambungan, serta menjadi aksi bersama.

Setelah pandemi Covid-19, kelas perkuliahan masih dipengaruhi oleh sedimen patologis seperti ketergantungan gadget, berkurangnya interaksi, dan meningkatnya gangguan kesehatan mental, sehingga diperlukan pendekatan baru untuk menghindari kelelahan belajar.Pendekatan penggembalaan dengan metafora pemulihan ekologis menawarkan model intervensi yang dapat meningkatkan resilien dan kesejahteraan mahasiswa, meskipun implementasinya harus disesuaikan dengan konteks masing‑masing.Praktik pemulihan ekologis harus dilaksanakan secara bertahap, dengan partisipan yang sadar, serta memperhatikan kebutuhan khusus peserta yang belum siap, agar tercapai produktivitas dan kesejahteraan kelas yang berkelanjutan.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas spesifik model intervensi penggembalaan—misalnya penggunaan simbol Kristen seperti salib dan air—dalam mengurangi kelelahan (fatigue) mahasiswa, dengan mengukur perubahan tingkat kelelahan sebelum dan sesudah intervensi. Selain itu, studi longitudinal yang menerapkan model pemulihan ekologis selama satu semester dapat menilai dampaknya pada peningkatan resilien dan kesejahteraan psikologis mahasiswa, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan intervensi. Penelitian komparatif juga dapat mengeksplorasi bagaimana integrasi praktik budaya lokal, seperti yoga atau ritual tradisional, bersama dengan pendekatan penggembalaan, memengaruhi hasil kesehatan mental dibandingkan dengan intervensi standar, sehingga memberikan wawasan tentang adaptasi konteksual yang optimal.

Read online
File size428.4 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test