PERTANIANPERTANIAN

Jurnal AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun BangsaJurnal AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan penjaminan mutu pelatihan dan menganalisis dampaknya terhadap penyelenggaraan pelatihan menggunakan model CIPP yang mencakup aspek context, input, process, dan product. Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi pada 10 UPT pelatihan bidang pertanian di bawah Kementerian Pertanian pada periode Oktober–Desember 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi penjaminan mutu pelatihan berada pada kategori baik pada seluruh komponen CIPP. Pada aspek context, program pelatihan telah sesuai dengan kebutuhan peserta serta kebijakan dan tugas fungsi lembaga. Pada aspek input, kualifikasi widyaiswara, kurikulum, bahan ajar, serta sarana dan prasarana berada pada kategori baik meskipun masih terdapat variasi antar UPT. Pada aspek process, penerapan SOP penjaminan mutu, metode pembelajaran, serta monitoring dan evaluasi telah dilaksanakan secara konsisten. Pada aspek product, peningkatan kompetensi peserta, kepuasan, dan penerapan hasil pelatihan di tempat kerja menunjukkan hasil yang positif dengan nilai mutu rata-rata 70,31–90,25. Secara keseluruhan, sebagian besar UPT berada pada kategori sangat bermutu, yaitu Bapeltan Lampung, BBPP Batu, BBPP Lembang, BBPP Binuang, BBPP Kupang, BBPKH Cinagara, dan BBPP Ketindan, sedangkan Bapeltan Jambi dan beberapa UPT lainnya berada pada kategori bermutu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjaminan mutu pelatihan berkontribusi positif terhadap peningkatan efektivitas, konsistensi, dan akuntabilitas penyelenggaraan pelatihan. Selain itu, aspek yang perlu dipertahankan meliputi penerapan SOP, kompetensi widyaiswara, dan kesesuaian program dengan kebutuhan, sedangkan aspek yang perlu ditingkatkan adalah konsistensi kualitas input serta penguatan evaluasi pascapelatihan.

Penelitian ini menegaskan bahwa penjaminan mutu pelatihan memiliki dampak positif terhadap efektivitas penyelenggaraan pelatihan di balai pelatihan bidang pertanian.Evaluasi menggunakan model CIPP menunjukkan bahwa konteks, input, proses, dan hasil pelatihan secara keseluruhan berada pada kategori bermutu hingga sangat bermutu, mencerminkan kesesuaian program dengan kebutuhan peserta, kesiapan sumber daya, konsistensi pelaksanaan, dan pencapaian kompetensi peserta.Penguatan sistem penjaminan mutu melalui tindak lanjut evaluasi, pembaruan materi, dan peningkatan kapasitas instruktur diharapkan dapat mendorong inovasi serta perbaikan berkelanjutan dalam penyelenggaraan pelatihan pertanian.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji secara longitudinal bagaimana penjaminan mutu pelatihan memengaruhi kinerja dan produktivitas peserta di tempat kerja selama satu hingga tiga tahun setelah selesai pelatihan, sehingga dapat menilai dampak jangka panjang secara lebih komprehensif; selanjutnya, perbandingan antara model pelatihan blended (kombinasi daring dan tatap muka) dengan model tradisional tatap muka dalam konteks penjaminan mutu dapat dilakukan untuk menentukan strategi penyampaian yang paling efektif dalam meningkatkan kualitas input dan proses pelatihan; terakhir, pengembangan dan pengujian platform digital berbasis kecerdasan buatan untuk pemantauan real‑time kualitas pelatihan dapat menjadi fokus studi guna mempercepat identifikasi kendala operasional, meningkatkan responsivitas SOP, serta memperkuat mekanisme evaluasi pasca‑pelatihan secara berkelanjutan.

  1. Monitoring Strategy and Evaluation of Education and Training Program with The CIPP Method | Nazhruna:... e-journal.uac.ac.id/index.php/NAZHRUNA/article/view/2566Monitoring Strategy and Evaluation of Education and Training Program with The CIPP Method Nazhruna e journal uac ac index php NAZHRUNA article view 2566
Read online
File size203.84 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test