UPIUPI

JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa JepangJAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang

Penelitian ini menganalisis kecemasan bahasa yang dialami oleh pembelajar bahasa Jepang yang berpartisipasi dalam forum diskusi antarbudaya Indonesia-Jepang. Saat berkomunikasi menggunakan bahasa asing, pembelajar mengalami kecemasan yang disebabkan oleh berbagai faktor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kecemasan apa yang dirasakan peserta dan faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif di mana hasilnya akan dianalisis menggunakan kuesioner dan wawancara dengan 47 responden pembelajar bahasa Jepang yang memiliki pengalaman berpartisipasi dalam forum diskusi antarbudaya Indonesia-Jepang. Pertanyaan yang digunakan dalam kuesioner adalah pertanyaan terkait FLA (Foreign Language Anxiety) menurut Horwitz (1986). Berdasarkan temuan, kunci utama menunjukkan bahwa pembelajar bersertifikat tingkat lanjut (N2-N1) atau yang memiliki lebih banyak paparan diskusi menunjukkan kecemasan yang lebih rendah daripada individu bersertifikat tingkat bawah atau yang kurang terpapar. Responden dengan tingkat keterampilan bahasa yang lebih tinggi ditemukan lebih percaya diri dalam menggunakan kosa kata dan menyusun kalimat dengan benar, yang memungkinkan komunikasi yang lebih mudah. Wawancara juga menekankan masalah komunikasi, terutama dalam berbicara dan mendengarkan, karena nuansa dalam kosa kata dan pengucapan menghambat komunikasi. Responden menambahkan bahwa mereka menjadi semakin gugup saat berkomunikasi dengan penutur asli karena kekhawatiran mengenai ketepatan tata bahasa, kesopanan yang sesuai, dan takut dinilai. Penelitian ini menekankan pentingnya paparan terstruktur dan keterlibatan praktis dalam meringankan kecemasan bahasa. Contohnya adalah forum antarbudaya yang lebih sering, peran bermain, workshop persiapan skenario, dan secara umum, membangun jaringan sebaya dalam semangat belajar secara kooperatif. Pendekatan-pendekatan ini berfungsi untuk memberikan kepercayaan diri dalam mengatasi hambatan psikolinguistik dalam akuisisi bahasa asing. Makalah ini mendukung beberapa masalah penting dalam merancang konteks pendukung untuk pertumbuhan bahasa dan pertemuan antarbudaya yang vital untuk kecemasan pembelajar tingkat minimal dalam lingkungan multilingual.

Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa tiga faktor utama menyebabkan munculnya kecemasan pada peserta program diskusi antarbudaya, yaitu lama belajar, prestasi belajar (sertifikat keterampilan bahasa Jepang), dan intensitas partisipasi dalam forum diskusi antarbudaya.Dari ketiga faktor tersebut, intensitas partisipasi merupakan faktor yang paling signifikan mempengaruhi tingkat kecemasan responden.Semakin tinggi intensitas partisipasi, tingkat kecemasan cenderung menurun.Sebaliknya, semakin rendah intensitas partisipasi, tingkat kecemasan cenderung meningkat.Selain itu, respons dari interlocutor dalam forum diskusi antarbudaya juga mempengaruhi munculnya faktor-faktor kecemasan pada responden.Kecemasan cenderung berkurang karena respons interlocutor, dalam hal ini penutur asli bahasa Jepang, tidak menunjukkan respons negatif terhadap ucapan bahasa Jepang responden.Prinsipnya, kecemasan peserta forum diskusi antarbudaya muncul karena kuantitas atau frekuensi tinggi dari ketiga faktor yang menyebabkan munculnya kecemasan.Contohnya, jika seorang peserta memiliki waktu belajar yang relatif lama, kecemasannya akan berkurang, sedangkan peserta dengan waktu belajar yang relatif singkat memiliki kecemasan yang tinggi.Hal ini juga berlaku ketika melihat prestasi belajar.Prestasi belajar dalam hal ini diukur dengan kepemilikan sertifikat ujian keterampilan bahasa Jepang.Semakin tinggi tingkat ujian yang dicapai, tingkat kecemasan cenderung menurun.Sebaliknya, jika prestasi belajar masih rendah, tingkat kecemasan akan meningkat.Contoh konkret dari kecemasan ini kebanyakan terkait dengan aspek linguistik.Responden yang memiliki masa belajar bahasa Jepang yang lebih lama dan prestasi belajar yang tinggi (sertifikat tingkat tinggi) juga tidak menutup kemungkinan memiliki kecemasan yang tinggi jika tidak dipraktikkan.Oleh karena itu, faktor selanjutnya, yaitu intensitas peserta dalam forum diskusi, dapat mengurangi kecemasan responden.Jika intensitas partisipasi tinggi, kecemasan cenderung berkurang, sedangkan peserta dengan intensitas partisipasi yang masih kecil, cenderung memiliki kecemasan yang tinggi.Hasil yang diperoleh dari penelitian ini juga sejalan dengan pernyataan dari Horwitz, Elaine, Tallon, dan Luo (2010) yang menyatakan bahwa paparan bahasa di luar kelas juga dapat membantu siswa yang cemas menjadi lebih nyaman menggunakan bahasa.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan:. . 1. Mengembangkan strategi intervensi untuk mengurangi kecemasan bahasa pada pembelajar bahasa Jepang, terutama bagi mereka yang memiliki tingkat kecemasan tinggi. Penelitian dapat fokus pada intervensi berbasis komunitas atau kelompok sebaya yang dapat membantu pembelajar mengatasi kecemasan mereka dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi.. . 2. Meneliti lebih lanjut tentang peran dan pengaruh interlocutor dalam mengurangi kecemasan bahasa. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana respons positif dari interlocutor, seperti penutur asli bahasa Jepang, dapat membantu mengurangi kecemasan pembelajar dan meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam berkomunikasi.. . 3. Menganalisis dampak intensitas partisipasi dalam forum diskusi antarbudaya terhadap kecemasan bahasa. Penelitian dapat menyelidiki apakah peningkatan intensitas partisipasi secara signifikan mengurangi kecemasan bahasa dan apakah ada titik jenuh di mana peningkatan partisipasi tidak lagi berpengaruh terhadap penurunan kecemasan. Penelitian ini juga dapat mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi hubungan antara intensitas partisipasi dan kecemasan bahasa.

Read online
File size785.26 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test