UPIUPI

JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa JepangJAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara deskriptif-objektif bagaimana konstruksi kalimat fukubun dengan verba transitif sebenarnya dibangun dalam tuturan pemelajar bahasa Jepang. Konstruksi fukubun dijelaskan dan dianalisis melalui tata bahasa generatif transformasional. Metode penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur. Analisis data menggunakan pendekatan analitis tata bahasa generatif transformasional, yaitu analisis aturan struktur frasa dan analisis proses transformasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya 4 jenis konstruksi B-turunan (konstruksi kalimat majemuk dengan frasa predikat di klausa induk adalah verba transitif), yaitu tipe BB, BB (1), BB (2), dan BB (3). Dalam keempat jenis turunan tersebut, terdapat dominasi konstruksi tipe BB (predikat verba di klausa induk dan klausa anak adalah verba monotransitif) dalam tuturan pemelajar. Hal ini ditunjukkan oleh kecenderungan penggunaan konstruksi tipe BB yang relatif tinggi saat menggambarkan berbagai situasi. Bahkan meskipun tuturan menggunakan berbagai konjungsi, tetap dalam konstruksi tipe BB. Dominasi tipe BB menunjukkan bahwa tuturan subjek penelitian relatif sederhana karena disampaikan dalam konstruksi kalimat majemuk dasar dan sederhana. Selain itu, 8 variasi transformasi konjungtif dalam konstruksi tipe B muncul dalam konstruksi tipe BB, dengan frekuensi yang relatif tinggi untuk konjungsi sebab-akibat, serial, pilihan/alternatif, dan temporal. Di sisi lain, analisis proses transformasi dasar menunjukkan beberapa kecenderungan dalam tuturan subjek penelitian, yaitu penghilangan subjek baik di klausa anak maupun klausa induk; penggabungan subjek atau predikat verba; sedangkan dalam transformasi konjungtif sebab-akibat, subjek penelitian menunjukkan proses transformasi yang lebih beragam dan kompleks. Penelitian ini belum sepenuhnya menemukan pola tuturan pemelajar bahasa Jepang, tetapi melalui penelitian ini telah ditemukan dominasi dan kecenderungan tertentu dalam konstruksi tipe B tuturan pemelajar bahasa Jepang. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki lebih mendalam perbedaan pola tuturan antara penutur asli dan non-asli, dan hal ini memiliki implikasi untuk menemukan pengajaran-pembelajaran yang lebih terapan dalam bahasa Jepang, terutama dalam latihan yang menekankan aspek produktivitas.

Penelitian ini membuktikan dominasi penggunaan verba monotransitif dalam klausa induk dan klausa anak dalam tuturan mahasiswa.Hal ini bertentangan dengan tuturan penutur asli yang lebih sering menggunakan verba intransitif.Karena verba adalah salah satu fokus dalam konstruksi kalimat, perbedaan dalam penggunaan verba ini telah menunjukkan perbedaan dalam pola tuturan.Kecenderungan ini mengungkapkan salah satu aspek dalam memahami pola tuturan penutur asli.Di sisi lain, konstruksi kalimat majemuk pada subjek penelitian juga cenderung sederhana dan menggunakan bentuk dasar.Selain itu, terdapat dominasi penggunaan konjungsi serial dan sebab-akibat dalam konstruksi fukubun.Analisis proses transformasi juga membuktikan adanya penghilangan, penambahan, penggabungan, dan permutasi dalam pembentukan konstruksi fukubun dalam tuturan subjek penelitian.Kecenderungan-kecenderungan ini dapat diidentifikasi sebagai pola tuturan spesifik pemelajar Indonesia saat menggambarkan atau menjelaskan berbagai peristiwa dalam bahasa Jepang sebagai bahasa asing.Tren dalam konstruksi kalimat majemuk dalam penelitian ini memiliki implikasi untuk penelitian lebih lanjut dalam menyelidiki lebih mendalam perbedaan pola tuturan antara penutur asli dan non-asli, serta memiliki implikasi untuk pengajaran-pembelajaran yang terapan dalam bahasa Jepang dengan meningkatkan aktivitas belajar dalam aspek produktivitas.Penelitian ini belum sepenuhnya menemukan pola tuturan pemelajar bahasa Jepang, tetapi melalui penelitian ini telah ditemukan dominasi dan kecenderungan tertentu dari pemelajar bahasa Jepang pemula saat belajar bahasa Jepang.Penelitian berkelanjutan perlu dilakukan agar akhirnya kecenderungan-kecenderungan ini dapat mengarah pada penemuan pola tuturan dalam proses belajar bahasa Jepang sebagai bahasa asing.

Berdasarkan hasil penelitian, saran-saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: (1) Menganalisis lebih lanjut perbedaan pola tuturan antara penutur asli dan non-asli dalam bahasa Jepang, dengan fokus pada penggunaan verba transitif dan intransitif. Penelitian ini dapat membantu memahami perbedaan dalam pola tuturan dan strategi pembelajaran yang efektif untuk pemelajar bahasa Jepang. (2) Meneliti lebih dalam tentang proses akuisisi bahasa Jepang oleh pemelajar pemula, terutama dalam hal penggunaan konstruksi kalimat majemuk dan konjungsi. Penelitian ini dapat memberikan wawasan tentang tantangan dan strategi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Jepang. (3) Mengembangkan metode pengajaran yang lebih terapan dan interaktif dalam bahasa Jepang, terutama dalam latihan yang menekankan aspek produktivitas. Penelitian ini dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik dan efektif untuk pemelajar bahasa Jepang.

  1. Japanese Compound Sentences of Syntactic Structure Acquisition in University Students’ Speech |... doi.org/10.2991/assehr.k.201201.126Japanese Compound Sentences of Syntactic Structure Acquisition in University StudentsAo Speech doi 10 2991 assehr k 201201 126
  2. 0. pdf obj endobj xref trailer startxref eof cg el na wm bc q6du 0g 9b arfpd l4 fln 1un gb endstream... doi.org/10.17507/jltr.0704.100 pdf obj endobj xref trailer startxref eof cg el na wm bc q6du 0g 9b arfpd l4 fln 1un gb endstream doi 10 17507 jltr 0704 10
Read online
File size524.82 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test