UM PalembangUM Palembang

BISASTRABISASTRA

Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran emosi dalam perjuangan Marsinah melawan ketidakadilan. Teori yang digunakan adalah teori emosi David Krech yang menitikberatkan pada perasaan terhadap orang lain yaitu kebencian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dimana tidak menggunakan data variabel melainkan data diambil dari teknik studi pustaka naskah monolog Marsinah Menggugat. Dengan menggunakan pendekatan interpretatif, dimana peneliti akan menafsirkan makna dan implikasi dari temuan yang diperoleh dari studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebencian yang dirasakan oleh Marsinah merupakan reaksi yang kompleks terhadap kondisi sosial dan pribadi, seperti ketidakadilan dalam upah, kekerasan seksual, dan ketidakpedulian dari pihak berwenang. Kebencian ini tidak berdiri sendiri, melainkan terjalin dengan emosi lainnya, seperti kemarahan, ketakutan, kekecewaan, rasa bersalah, dan kesedihan. Monolog Marsinah mencerminkan kebencian sebagai motivasi yang kuat untuk melawan ketidakadilan dan penindasan, yang terlihat dalam pilihan kata dan ekspresi emosionalnya.

Analisis monolog Marsinah Menggugat mengungkap bahwa rasa benci yang dialami Marsinah merupakan respons kompleks terhadap berbagai bentuk ketidakadilan dan kekerasan yang ia alami.Rasa benci tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan terjalin erat dengan emosi lain seperti kemarahan, ketakutan, kesedihan, penyesalan, dan rasa malu, yang mencerminkan penderitaan kaum buruh dan perempuan.Dengan demikian, kebencian Marsinah berfungsi sebagai simbol kritik sosial yang menekankan pentingnya keadilan sosial serta perlindungan bagi kelompok yang terpinggirkan.

Penelitian selanjutnya dapat diarahkan pada tiga pertanyaan utama. Pertama, bagaimana emosi‑emosi pendamping seperti ketakutan, rasa bersalah, atau rasa malu memengaruhi motivasi dan strategi perlawanan perempuan buruh di Indonesia, bila dibandingkan dengan kebencian yang diteliti pada monolog Marsinah Menggugat? Kedua, sejauh mana konteks sosio‑politik masa kini memengaruhi cara kebencian diekspresikan dalam karya teater Indonesia kontemporer, dan apakah pola tersebut berubah seiring dengan dinamika kebijakan ketenagakerjaan? Ketiga, apa dampak jangka panjang pemaparan drama yang menyoroti penindasan buruh terhadap tingkat empati dan perubahan sikap sosial penonton, serta bagaimana proses tersebut dapat diukur melalui pendekatan kuantitatif‑kualitatif yang terintegrasi? Untuk menjawab pertanyaan‑pertanyaan tersebut, peneliti dapat menggunakan metode komparatif teks, analisis isi, serta survei dan wawancara mendalam dengan penonton dan praktisi seni. Hasilnya diharapkan dapat memperkaya teori psikologi sastra serta memberikan dasar empiris bagi kebijakan kebudayaan dan perlindungan hak buruh.

  1. KLASIFIKASI EMOSI TOKOH QAIS AL-QARANI DALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA NIZAMI AL-GANJAVI: KAJIAN PERSPEKTIF... ejournal.mandalanursa.org/index.php/JIME/article/view/3250KLASIFIKASI EMOSI TOKOH QAIS AL QARANI DALAM NOVEL LAYLA MAJNUN KARYA NIZAMI AL GANJAVI KAJIAN PERSPEKTIF ejournal mandalanursa index php JIME article view 3250
  2. Penerapan Metode Kualitatif Deskriptif Untuk Aplikasi Pengolahan Data Pelanggan Pada Car Wash | Hanyfah... doi.org/10.30998/semnasristek.v6i1.5697Penerapan Metode Kualitatif Deskriptif Untuk Aplikasi Pengolahan Data Pelanggan Pada Car Wash Hanyfah doi 10 30998 semnasristek v6i1 5697
  3. KARAKTER TOKOH UTAMA PADA NOVEL ENTROK KARYA OKKY MADASARI (KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA) | Jurnal Ilmiah... doi.org/10.25139/fn.v1i1.1092KARAKTER TOKOH UTAMA PADA NOVEL ENTROK KARYA OKKY MADASARI KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Jurnal Ilmiah doi 10 25139 fn v1i1 1092
Read online
File size340.59 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test