UNISMUNISM

Journal Pharmaceutical Care and SciencesJournal Pharmaceutical Care and Sciences

Latar Belakang: Keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia menjadikan adanya perbedaan budaya dan pengetahuan tradisional salah satunya dalam memanfaatkan tumbuhan untuk pengobatan suatu penyakit. Salah satu suku yang tersebar luas di Pulau Kalimantan yang kental dengan pengobatan tradisionalnya adalah Suku Banjar yang berada di Desa Belangian, Kalimantan Selatan. Etnomedisin merupakan pengobatan oleh etnis tertentu yang didasarkan atas tradisi turun temurun dalam pengobatan tradisionalnya dalam hal ini adalah penggunaan tumbuhan berkhasiat obat. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui etnomedicine tumbuhan obat yang digunakan oleh Suku Banjar Desa Belangian, Kecamatan Aranio, Provinsi Kalimantan Selatan. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif dengan perhitungan Fidelity Level (FL) untuk masing-masing jenis tumbuhan obat. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian dari 38 informan diperoleh 58 spesies dengan jumlah family sebanyak 36. Terdapat 50 penyakit yang dapat diobati dari 58 jenis tumbuhan obat. Metode yang paling digemari pada pengolahan adalah direbus 56,89% kemudian diminum 72,41%. Bagian tumbuhan obat paling banyak digunakan adalah bagian daun 41,73%. Lima jenis tanaman dengan nilai FL tertinggi yang menyatakan efektivitas untuk pengobatan yaitu Cymbopogon citratus 86,84%, Zingiber officinale 78,94%, Jatropha multifida L 73,64%, Peronema canescens jack 68,42%, Syzygium polyanthum 65,78%. Tradisi pengobatan dengan tumbuhan obat oleh Suku Banjar ini secara turun temurun dengan nilai kearifan lokal dalam pemanfaatannya.

Penelitian ini mengidentifikasi 58 spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Banjar di Desa Belangian untuk mengobati hingga 50 jenis penyakit, dengan batuk dan luka sebagai penyakit yang paling sering disembuhkan.Tumbuhan yang paling sering dipakai berasal dari keluarga Poaceae, dan lima spesies dengan nilai Fidelity Level tertinggi meliputi Cymbopogon citratus, Zingiber officinale, Jatropha multifida, Peronema canescens, serta Syzygium polyanthum.Banyak dari tumbuhan tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan obat atau penemuan obat baru melalui penelitian lebih lanjut.

Penelitian selanjutnya dapat menguji kandungan fitokimia serta aktivitas farmakologis dari lima tumbuhan dengan nilai Fidelity Level tertinggi (Cymbopogon citratus, Zingiber officinale, Jatropha multifida, Peronema canescens, dan Syzygium polyanthum) untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya secara ilmiah. Selain itu, perlu dilakukan survei etnomedis yang lebih luas mencakup komunitas Banjar lain serta suku-suku tetangga di Kalimantan Selatan guna membandingkan pola penggunaan tumbuhan obat dan mengidentifikasi spesies unik yang belum terdokumentasi. Terakhir, studi longitudinal mengenai praktik panen berkelanjutan dan budidaya tanaman obat yang paling diminati dapat menilai dampak ekologis serta kontribusinya terhadap peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.

  1. Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Pharmaceutical Care and Sciences (JPCS) | Journal Pharmaceutical Care... doi.org/10.33859/jpcs.v4i2Vol 4 No 2 2024 Journal of Pharmaceutical Care and Sciences JPCS Journal Pharmaceutical Care doi 10 33859 jpcs v4i2
  2. Studi etnomedicine pengobatan luka terbuka dan sakit kulit pada beberapa etnis di Provinsi Kalimantan... kjif.unjani.ac.id/index.php/kjif/article/view/178Studi etnomedicine pengobatan luka terbuka dan sakit kulit pada beberapa etnis di Provinsi Kalimantan kjif unjani ac index php kjif article view 178
Read online
File size582.35 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test