UNSRATUNSRAT

CHEMPROGCHEMPROG

Seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat, masalah kesehatan di Indonesia menjadi semakin kompleks akibat paparan radikal bebas yang memicu stres oksidatif dan penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes, serta penyakit kardiovaskular. Kondisi ini diperburuk oleh tingginya risiko infeksi bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yang dapat merusak sel-sel tubuh. Dampak negatif radikal bebas dan infeksi tersebut dapat dicegah oleh senyawa antioksidan dan antibakteri yang mampu melindungi sel serta menghambat pertumbuhan mikroba. Daun nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu sumber herbal yang memiliki potensi sebagai antioksidan dan antibakteri karena masih mengandung senyawa metabolit sekunder seperti fenolik, flavonoid, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan dan antibakteri dari ekstrak serta fraksi limbah daun nilam hasil penyulingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat (FEA) memiliki kandungan tertinggi pada total fenolik (43,31 µg/mL), flavonoid (78,90 µg/mL), dan tanin (22,78 µg/mL). FEA juga memberikan aktivitas antioksidan terkuat sebesar 96,61%. Pada uji antibakteri konsentrasi 30%, FEA menghasilkan zona hambat kategori kuat sebesar 16,80 mm terhadap S. aureus dan 15,25 mm terhadap E. coli. Hasil GC-MS menunjukkan bahwa dalam fraksi etil asetat daun nilam teridentifikasi beberapa senyawa dari golongan terpenoid dan asam lemak yang memiliki aktivitas antioksidan serta antibakteri. Berdasarkan hasil pengujian, ekstrak dan fraksi daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) hasil penyulingan memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri.

) hasil penyulingan menunjukkan aktivitas penangkal radikal bebas terhadap DPPH, dengan persentase peredaman tertinggi 96,61% pada fraksi etil asetat.Ekstrak etanol (EE) dan fraksi etil asetat (FEA) juga menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri uji, dengan aktivitas antibakteri meningkat seiring konsentrasi.Pada konsentrasi 30%, zona hambat tertinggi tercatat 16,80 mm (FEA) dan 14,73 mm (EE) terhadap Staphylococcus aureus, serta 15,25 mm (FEA) dan 13,47 mm (EE) terhadap Escherichia coli.

Penelitian lanjutan dapat meneliti keamanan ekstrak dan fraksi daun nilam hasil penyulingan pada sel mamalia, misalnya dengan melakukan uji sitotoksisitas pada kultur sel hati atau ginjal, untuk memastikan bahwa senyawa antioksidan dan antibakteri tidak menimbulkan efek samping pada organisme hidup. Selain itu, penting untuk memperluas spektrum aktivitas antibakteri dengan menguji ekstrak terhadap patogen lain seperti Pseudomonas aeruginosa, Salmonella spp., serta jamur dermatofit, sehingga dapat diketahui sejauh mana efektivitasnya melawan mikroorganisme beragam. Selanjutnya, penelitian dapat mengembangkan formulasi produk farmasi atau kosmetik berbasis fraksi etil asetat, misalnya dalam bentuk krim atau gel, dan mengevaluasi kestabilan, pelepasan zat aktif, serta efektivitas klinisnya pada model hewan atau uji coba manusia kecil. Penelitian-penelitian tersebut akan memberikan data penting untuk memanfaatkan limbah penyulingan daun nilam secara berkelanjutan dan meningkatkan nilai ekonominya.

Read online
File size443.67 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test