FDIKJOURNAL UINMAFDIKJOURNAL UINMA

KOMUNITASKOMUNITAS

Peningkatan angka perceraian di Indonesia selama dekade terakhir mencerminkan kerentanan yang semakin besar dalam ketahanan keluarga yang dibentuk oleh transformasi struktur sosial, ekonomi, dan budaya. Artikel ini meneliti relevansi konsep Keluarga Sakinah Muhammadiyah dalam mengatasi tren perceraian kontemporer melalui pendekatan sosio-agama yang berbasis data masyarakat. Studi ini menggunakan desain penelitian non-lapangan yang didasarkan pada analisis data sekunder, termasuk dokumen resmi Muhammadiyah, laporan program masyarakat Muhammadiyah, dan statistik perceraian yang diterbitkan oleh Biro Pusat Statistik dan Mahkamah Agung Indonesia. Analisis dilakukan secara tematis menggunakan analisis konten dan analisis sosio-agama komparatif. Konsep Keluarga Sakinah Muhammadiyah berfungsi sebagai kerangka normatif yang menekankan kesetaraan, keadilan relasional, musyawarah, dan pengelolaan konflik dialogis sebagai fondasi utama ketahanan keluarga. Kerangka ini dioperasionalisasikan melalui inisiatif pengembangan keluarga berbasis masyarakat, termasuk bimbingan pranikah, konseling keluarga, dan program pendidikan keluarga yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah. Namun, statistik perceraian nasional menunjukkan bahwa efektivitas praktis konsep Keluarga Sakinah dibatasi oleh faktor struktural seperti tekanan ekonomi dan transformasi sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, studi ini menyimpulkan bahwa relevansi konsep Keluarga Sakinah Muhammadiyah bersifat kontekstual dan tergantung pada sinergi berkelanjutan antara organisasi keagamaan, negara, dan masyarakat sipil dalam memperkuat ketahanan keluarga di Indonesia.

Secara teoritis, studi ini berkontribusi pada pengayaan sosiologi agama dan sosiologi keluarga dengan menunjukkan bahwa konsep Keluarga Sakinah Muhammadiyah dapat dipahami sebagai konstruksi sosio-agama dinamis daripada doktrin normatif ahistoris.Integrasi analisis dokumen agama, data berbasis masyarakat, dan statistik perceraian mengungkapkan bahwa nilai-nilai agama beroperasi dalam hubungan dialektis dengan struktur sosial, kebijakan negara, dan transformasi budaya keluarga modern.Temuan ini memperkuat argumen bahwa agama berfungsi bukan hanya sebagai sistem kepercayaan individu, tetapi juga sebagai bentuk agen sosial kolektif yang membentuk pola ketahanan keluarga melalui mekanisme budaya dan institusional.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, penelitian lanjutan dapat difokuskan pada beberapa arah. Pertama, perlu dilakukan studi komparatif antara berbagai komunitas agama dalam merespons krisis keluarga modern. Kedua, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana nilai-nilai agama dapat diintegrasikan ke dalam praktik sosial, program komunitas, dan kebijakan publik yang sensitif terhadap dinamika keluarga Muslim kontemporer di Indonesia. Ketiga, penelitian juga dapat dilakukan untuk menganalisis peran organisasi keagamaan sebagai agen sosial dalam membangun ketahanan keluarga dan mempertahankan institusi keluarga di Indonesia.

Read online
File size146.86 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test