JOURNALSTKIPPGRISITUBONDOJOURNALSTKIPPGRISITUBONDO

Jurnal Pendidikan dan KewirausahaanJurnal Pendidikan dan Kewirausahaan

Perkembangan interaksi remaja dan memunculkan berbagai pelanggaran etika digital seperti cyberbullying, penyebaran hoaks, dan unggahan negatif, sehingga sekolah perlu mengembangkan pendidikan budi pekerti yang selaras dengan tuntutan zaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran ulang ajaran Tamansiswa, khususnya Tri Karsa dalam pembinaan etika digital, mendeskripsikan mekanisme penanganan pelanggaran di SMPN 2 Campaka, mengidentifikasi tantangan implementasi pendekatan restoratif‑pedagogis, serta mengevaluasi persepsi siswa terhadap efektivitas penanganan kasus. Dengan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus, data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tri Karsa di SMPN 2 Campaka diinterpretasikan sebagai literasi kritis digital, empati digital, dan tanggung jawab moral digital, sehingga mendukung pembentukan karakter digital siswa.Mekanisme penanganan pelanggaran, meskipun belum didukung SOP formal, berfokus pada dialog, mediasi, dan pembinaan karakter, dan dianggap efektif oleh siswa.Penelitian menegaskan bahwa nilai-nilai Tamansiswa dapat menjadi dasar bagi model pendidikan budi pekerti digital yang humanis dan kontekstual.

Bagaimana sekolah menstandarisasi prosedur penanganan pelanggaran etika digital agar konsisten dan transparan? Apa dampak integrasi pelatihan literasi digital bagi guru pada kualitas mediasi dan konseling di ruang digital? Bagaimana membangun kemitraan aktif antara sekolah, orang tua, dan komunitas digital untuk memperkuat pembinaan karakter remaja di era digital?.

Read online
File size352.84 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test