UNYUNY

INformasi dan Ekspose hasil Riset Teknik SIpil dan ArsitekturINformasi dan Ekspose hasil Riset Teknik SIpil dan Arsitektur

Perubahan iklim dan urbanisasi cepat meningkatkan intensitas dan ketidakpastian hujan di wilayah perkotaan, termasuk Kota Denpasar. Transisi musim kering ke musim hujan sering disertai hujan ekstrem yang memicu banjir, mengganggu aktivitas masyarakat, merusak infrastruktur, dan menghambat kegiatan ekonomi. Kerangka mitigasi bencana hidrometeorologi memerlukan informasi hujan spasial yang akurat untuk mengidentifikasi daerah rawan dan merancang strategi pengendalian banjir yang lebih efektif. Penelitian ini mengevaluasi dan membandingkan tiga metode interpolasi spasial—Inverse Distance Weighting (IDW), Kriging, dan Spline—pada pemetaan distribusi hujan desain di Kota Denpasar. Data beberapa stasiun hujan dikumpulkan selama periode 2013–2022 dan dianalisis berdasarkan periode pengembalian 2, 5, 10, 15, 20, 25, dan 50 tahun. Indikator statistik (MAE, MAPE, RMSE, R²) digunakan untuk menilai kinerja metode. Hasil menunjukkan bahwa IDW paling akurat pada periode pengembalian pendek (2 tahun), sedangkan Kriging unggul pada periode pengembalian menengah hingga panjang (5–50 tahun), sementara Spline menghasilkan kesalahan lebih tinggi dan R² lebih rendah, terutama pada periode panjang. Kesimpulannya, IDW dan Kriging adalah metode interpolasi yang paling dapat diandalkan untuk memetakan distribusi hujan desain di Denpasar, dengan IDW lebih cocok untuk analisis jangka pendek dan Kriging untuk jangka panjang.

IDW dan Kriging adalah metode interpolasi paling andal untuk memetakan distribusi hujan desain di Denpasar.IDW lebih unggul pada periode pengembalian singkat (misalnya 2 tahun) sementara Kriging menunjukkan kinerja terbaik pada periode pengembalian menengah hingga panjang (5–50 tahun).Spline tidak memberikan hasil optimal, terutama pada periode pengembalian panjang, sehingga kurang cocok digunakan di pelaksanaan mitigasi bencana hidrometeorologi di kota tersebut.

Pertanyaan penelitian berikut dapat dijajaki: (1) Bagaimana pengaruh distribusi spasial stasiun hujan (kepadatan dan lokasi) terhadap akurasi metode interpolasi di daerah urban yang padat seperti Denpasar, dan apakah metode hybrid (misalnya kombinasi IDW dan Kriging) dapat meningkatkan presisi pada periode pengembalian yang berbeda? (2) Apakah penggunaan data satellite tambahan (misalnya MODIS) dapat memperkaya dataset hujan harian dan meningkatkan kinerja interpolasi, terutama di wilayah dengan keterbatasan stasiun perkiraan? (3) Bagaimana dampak penyusunan peta distribusi hujan desain menggunakan metode interpolasi pada simulasi hidrologi cepat (flash flood) dan perencanaan infrastruktur mitigasi, dan apakah model tersebut dapat diintegrasikan ke dalam sistem peringatan dini berbasis GIS?.

  1. Radware Bot Manager Captcha. radware bot manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human... doi.org/10.1088/1742-6596/1961/1/012050Radware Bot Manager Captcha radware bot manager captcha apologize ensure keep safe please confirm human doi 10 1088 1742 6596 1961 1 012050
  2. Infiltration Well Design for Environmental Conservation: Assessing Watershed and Groundwater Depth in... ejournal.undip.ac.id/index.php/presipitasi/article/view/67087Infiltration Well Design for Environmental Conservation Assessing Watershed and Groundwater Depth in ejournal undip ac index php presipitasi article view 67087
Read online
File size852.85 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test