USIUSI

JURNAL AGRILINK: KAJIAN AGRIBISNIS DAN RUMPUN ILMU SOSIOLOGI PERTANIANJURNAL AGRILINK: KAJIAN AGRIBISNIS DAN RUMPUN ILMU SOSIOLOGI PERTANIAN

Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH) Sipolha Nauli dalam pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) berdasarkan dimensi akses, partisipasi, kontrol, manfaat, dan kelembagaan. Penelitian dilakukan pada Februari–Maret 2026 di Desa Sipolha Horison, Kabupaten Simalungun, menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan dukungan kualitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi terhadap 44 anggota KTH dengan teknik sensus, serta dianalisis menggunakan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemberdayaan KTH Sipolha Nauli berada pada kategori tinggi dengan nilai indeks sebesar 78,46%. Secara rinci, dimensi akses memperoleh nilai 78,09%, partisipasi 80%, kontrol 79,36%, manfaat 79,63%, dan kelembagaan 75,53%. Pemanfaatan lahan HKm didominasi oleh sistem agroforestri seluas 15 ha dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) berupa aren seluas 6 ha, yang berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan dan keberlanjutan lingkungan. Tingginya tingkat pemberdayaan dipengaruhi oleh dukungan pemerintah, partisipasi aktif anggota, kepatuhan terhadap aturan kelompok, serta manfaat ekonomi dan sosial yang dirasakan. Namun, diperlukan penguatan kelembagaan, peningkatan akses pelatihan dan kemitraan, serta optimalisasi komunikasi internal guna meningkatkan kemandirian dan keberlanjutan pengelolaan HKm.

Pemberdayaan Kelompok Tani Hutan (KTH) Sipolha Nauli dalam pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) dipengaruhi oleh interaksi faktor internal dan eksternal, termasuk akses terhadap sumber daya dan informasi, modal sosial, diversifikasi sumber penghidupan, kapasitas adaptif masyarakat, serta dukungan kelembagaan eksternal.Faktor utama membentuk kemandirian dan keberlanjutan pengelolaan adalah modal sosial yang kuat dan kemampuan adaptasi masyarakat, sedangkan akses dan pendampingan menjadi pendorong awal.Keberhasilan pemberdayaan tidak hanya bergantung pada dukungan luar, tetapi lebih ditentukan oleh kemampuan kelompok dalam membangun kemandirian dan memperkuat kapasitas internal secara berkelanjutan.

1) Meneliti bagaimana kebijakan Pemerintah daerah dapat dimodifikasi agar lebih memperkuat jaringan internal KTH dan meningkatkan kesiapan adaptasi terhadap perubahan iklim, 2) Mengkaji efektivitas pelatihan multimodal (digital‑analog) dalam meningkatkan kapasitas teknis pengelolaan HHBK, 3) Mengeksplorasi potensi integrasi sistem agroforestri dengan platform e‑commerce untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

  1. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penguatan Sistem Agroforestri Berbasis Tanaman Durian Di Desa Manik Maraja,... doi.org/10.36985/hv8fyt93Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penguatan Sistem Agroforestri Berbasis Tanaman Durian Di Desa Manik Maraja doi 10 36985 hv8fyt93
Read online
File size504.18 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test