CENDEKIA UTAMA KUDUSCENDEKIA UTAMA KUDUS

JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia UtamaJKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama

Pioderma merupakan infeksi kulit akibat bakteri yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama dipengaruhi oleh iklim tropis, kebersihan, dan faktor sosial ekonomi. Namun, data mengenai karakteristik pasien dan pola klinis secara nasional masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik demografis, klinis, dan terapi pioderma di Indonesia. Tinjauan literatur review dilakukan pada Februari 2026 melalui Google Scholar, Pubmed, Garuda, dan ScienceDirect menggunakan kerangka PCC dan panduan PRISMA. Artikel observasional tahun 2016-2026 yang membahas karakteristik pioderma di Indonesia diseleksi. Data yang diekstraksi meliputi usia, jenis kelamin, jenis pioderma, dan terapi. Analisis dilakukan secara naratif. Delapan studi dari berbagai wilayah di Indonesia dianalisis. Pioderma paling sering terjadi pada anak usia 0-5 tahun, meskipun beberapa studi menunjukkan prevalensi tinggi pada usia dewasa lanjut. Mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki, namun perbedaannya tidak signifikan. Jenis pioderma tersering adalah impetigo, diikuti folikulitis, furunkel, dan ektima dengan variasi antar wilayah. Terapi kombinasi (topikal dan sistemik) merupakan pendekatan yang paling sering digunakan. Antibiotik sistemik yang dominan adalah golongan penisilin dan eritromisin, sedangkan antibiotik topikal yang paling banyak digunakan adalah asam fusidat, meskipun mupirosin juga ditemukan pada beberapa fasilitas kesehatan. Pioderma di Indonesia terutama menyerang anak-anak, namun juga dapat ditemukan pada usia dewasa akibat penurunan fungsi kulit dan komorbiditas. Jenis kelamin bukan faktor penentu utama, sedangkan higienitas berperan lebih penting. Manifestasi klinis bervariasi antar wilayah dengan impetigo sebagai jenis tersering. Terapi kombinasi menjadi pilihan utama dengan penggunaan antibiotik sistemik golongan penisilin dan topikal asam fusidat. Temuan ini menunjukkan pentingnya data nasional yang lebih representatif untuk mendukung strategi penatalaksanaan pioderma di Indonesia.

Pioderma di Indonesia ditemukan lebih sering pada anak usia dini, namun juga pada dewasa lanjut, dengan kebersihan dan lingkungan berperan lebih penting dibandingkan jenis kelamin dalam kejadiannya.Impetigo merupakan jenis pioderma paling umum, diikuti folikulitis, furunkel, dan ektima, menunjukkan variasi klinis antar wilayah.Penatalaksanaan melibatkan terapi kombinasi antibiotik sistemik (penisilin, eritromisin) dan topikal (asam fusidat, mupirosin), yang pola kejadian dan penanganannya dipengaruhi oleh usia, kondisi kulit, higiene, dan praktik pelayanan kesehatan.

Untuk memperdalam pemahaman dan meningkatkan penanganan pioderma di Indonesia, beberapa arah penelitian lanjutan yang baru dapat dipertimbangkan. Pertama, mengingat adanya variasi karakteristik klinis dan terapi antar wilayah, penting untuk melakukan studi komparatif yang mendalam. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana faktor-faktor spesifik seperti kondisi geografis, kebiasaan hidup, tingkat pendidikan masyarakat, serta akses dan kualitas fasilitas kesehatan lokal secara langsung memengaruhi jenis pioderma yang paling sering muncul dan respons pasien terhadap pengobatan di berbagai provinsi. Hasilnya dapat memberikan wawasan mengenai strategi intervensi yang disesuaikan dengan konteks lokal. Kedua, mengingat isu resistensi antibiotik yang semakin relevan dan disebutkan secara tidak langsung dalam konteks pemilihan eritromisin, studi epidemiologi molekuler sangat dibutuhkan. Penelitian ini bisa fokus pada identifikasi profil resistensi antibiotik dari bakteri penyebab pioderma utama (seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes) di berbagai rumah sakit atau puskesmas di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memahami pola resistensi yang berkembang dan menginformasikan panduan terapi antibiotik yang lebih efektif dan berkelanjutan. Ketiga, karena pioderma juga ditemukan pada usia dewasa lanjut, terutama dengan kondisi penyerta, penelitian lebih lanjut dapat berfokus pada kelompok rentan ini. Studi ini bisa mengidentifikasi secara spesifik faktor risiko dermatologis dan sistemik, manifestasi klinis atipikal, serta tantangan penatalaksanaan pioderma pada pasien geriatri dengan komorbiditas di Indonesia, sehingga penanganan dapat lebih tepat sasaran dan terintegrasi.

  1. Clinical and bacteriological profile of primary pyoderma: A cross sectional study - Journal of Skin and... doi.org/10.25259/JSSTD_58_2022Clinical and bacteriological profile of primary pyoderma A cross sectional study Journal of Skin and doi 10 25259 JSSTD 58 2022
  2. "Systemic antibiotic selection in skin and soft tissue infections" by Shafira Anindya Purnawan,... scholarhub.ui.ac.id/jdvi/vol8/iss2/11Systemic antibiotic selection in skin and soft tissue infections by Shafira Anindya Purnawan scholarhub ui ac jdvi vol8 iss2 11
  3. Profile of Pediatric Patients with Acute Bacterial Skin Infections at a Tertiary Hospital in Surabaya,... ijscia.com/profile-of-pediatric-patients-with-acute-bacterial-skin-infections-at-a-tertiary-hospital-in-surabaya-indonesiaProfile of Pediatric Patients with Acute Bacterial Skin Infections at a Tertiary Hospital in Surabaya ijscia profile of pediatric patients with acute bacterial skin infections at a tertiary hospital in surabaya indonesia
  4. Relation between Risk Factors of Pyoderma and Pyoderma Incidence | Depari | Althea Medical Journal. relation... doi.org/10.15850/amj.v3n3.867Relation between Risk Factors of Pyoderma and Pyoderma Incidence Depari Althea Medical Journal relation doi 10 15850 amj v3n3 867
Read online
File size813.29 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test