STIAB JINARAKKHITASTIAB JINARAKKHITA

Journal of Communication, Religious, and Social Sciences (JoCRSS)Journal of Communication, Religious, and Social Sciences (JoCRSS)

Penelitian ini menganalisis strategi digital storytelling dalam konten Instagram komunitas adat Cireundeu melalui akun @visitcireundeu dan bagaimana narasi membentuk branding keamanan pangan lokal berbasis beras ketela. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis konten postingan pada periode Mei-Juli 2025. Data dikodekan berdasarkan elemen storytelling dan kerangka Customer-Based Brand Equity (CBBE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa storytelling pada akun @visitcireundeu didominasi oleh narasi tentang pendidikan ketela, filsafat adat, pengolahan makanan, dan aktivitas budaya yang membangun citra komunitas sebagai entitas mandiri pangan. Digital storytelling tidak hanya meningkatkan kesadaran merek melalui perkenalan ketela, tetapi juga menciptakan makna merek (kinerja & citra) melalui narasi sejarah dan keberlanjutan pangan lokal. Selain itu, respons audiens dalam bentuk komentar, interaksi, dan kunjungan wisatawan menunjukkan perkembangan respons merek dan resonansi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa digital storytelling memainkan peran signifikan dalam membangun identitas merek beras sebagai makanan berbasis lokal yang berakar pada kebijaksanaan budaya, dan berfungsi sebagai strategi branding efektif di era digital.

Penelitian ini menunjukkan bahwa digital storytelling pada akun Instagram @visitcireundeu memainkan peran strategis dalam membangun brand equity untuk beras sebagai simbol keamanan pangan lokal.Dalam kerangka Customer-Based Brand Equity (CBBE) Keller, storytelling bekerja secara bertahap dan saling terhubung, mulai dari membangun kesadaran (salience) hingga menciptakan ikatan emosional (resonance) dengan audiens.Pada tahap brand salience, storytelling edukatif tentang sejarah konsumsi beras ketela dan filsafat tidak makan nasi memperkuat pengakuan publik terhadap identitas pangan lokal Cireundeu.Tahap brand meaning terbentuk melalui dua saluran.narasi kinerja yang menampilkan proses pembuatan beras ketela sebagai makanan sehat dan tahan krisis, serta narasi citra budaya yang memosisikan beras ketela sebagai bagian integral dari nilai-nilai tradisional dan kebijaksanaan lokal.Storytelling kemudian memicu brand response melalui interaksi audiens, apresiasi edukatif, dan testimoni, yang memperkuat kredibilitas komunitas adat sebagai pelaku keamanan pangan berbasis budaya.Tahap tertinggi, brand resonance, dibangun oleh narasi emosional tentang ketahanan komunitas dalam menghadapi pandemi dan peran generasi adat dalam melestarikan tradisi.Resonance ini menunjukkan bahwa audiens tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga merasa terhubung, menghargai, dan mendukung pelestarian beras ketela sebagai makanan lokal.

Berdasarkan hasil penelitian, digital storytelling pada akun @visitcireundeu terbukti menjadi alat strategis dalam membangun dan memperkuat merek keamanan pangan lokal. Kontribusi storytelling dapat dipahami melalui dua perspektif utama, yaitu perspektif komunitas adat sebagai produsen makna dan perspektif publik sebagai penerima dan penyebar narasi. Untuk komunitas adat Cireundeu, digital storytelling berfungsi sebagai media utama untuk menegaskan identitas pangan lokal dan mewakili makna budaya yang melekat pada beras ketela. Narasi tentang sejarah tidak makan nasi sejak 1918, proses pengolahan ketela menjadi beras ketela, nilai-nilai spiritual Sunda Wiwitan, dan ritual budaya seperti Serentaun membentuk dasar pembentukan makna merek. Melalui storytelling visual dalam bentuk foto proses produksi, peran perempuan adat, simbol adat, pakaian tradisional, dan storytelling verbal yang menjelaskan filsafat hidup, merek beras ketela tidak hanya muncul sebagai produk makanan alternatif, tetapi juga sebagai simbol kebijaksanaan lokal dan keamanan pangan berbasis komunitas. Konten ini menciptakan makna yang kuat bahwa beras ketela adalah bagian dari identitas kolektif komunitas Cireundeu, serta bentuk kemerdekaan, keberlanjutan, dan perlawanan terhadap ketergantungan pada beras. Sehingga, untuk komunitas adat, digital storytelling strategis dalam menjaga kontinuitas budaya sambil memperkuat makna merek dan citra merek yang selaras dengan nilai-nilai keamanan pangan lokal. Dari perspektif publik, digital storytelling tidak hanya membangun pemahaman tentang beras ketela, tetapi juga memicu keterlibatan aktif. Konten edukatif dan narasi emosional yang disampaikan oleh akun @visitcireundeu menghasilkan penilaian merek positif dan perasaan merek positif. Audiens merespons dengan komentar, pertanyaan, dukungan untuk pelestarian makanan lokal, dan peningkatan minat untuk berkunjung. Selain itu, digital storytelling mendorong publik untuk berbagi informasi melalui repost, mention, dan menciptakan konten sendiri saat mengunjungi Kampung Adat Cireundeu. Kegiatan publik seperti mencoba membuat beras ketela, berpartisipasi dalam workshop, mendokumentasikan kunjungan, dan berbagi pengalaman melalui media sosial membuat mereka menjadi bagian dari proses co-creation merek. Publik menjadi agen yang secara tidak langsung mempromosikan merek beras ketela dan identitas budaya Cireundeu kepada audiens yang lebih luas. Fenomena ini menunjukkan bahwa digital storytelling telah berhasil menciptakan brand resonance, yaitu keterikatan emosional dan partisipasi publik dalam menjaga kelangsungan merek. Komunitas tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berpartisipasi secara aktif dalam dengan menyebarkan nilai-nilai dan memperkuat reputasi keamanan pangan Cireundeu. Secara keseluruhan, digital storytelling pada akun @visitcireundeu memiliki fungsi ganda: (a) Untuk komunitas adat, storytelling memperkuat identitas, makna budaya, dan posisi sebagai merek keamanan pangan lokal. (b) Untuk publik, storytelling memicu kesadaran, memupuk interaksi positif, dan mendorong partisipasi publik dalam menyebarkan merek beras ketela melalui media sosial dan kegiatan kunjungan langsung. Sehingga, digital storytelling menjadi jembatan bermakna antara komunitas adat dan publik, serta fondasi penting dalam memperkuat merek keamanan pangan Kampung Adat Cireundeu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa digital storytelling pada akun @visitcireundeu telah berhasil membangun merek keamanan pangan Cireundeu melalui empat aspek utama: (1) Menyajikan sejarah pangan lokal dan identitas sebagai fondasi makna merek. (2) Mengkomunikasikan nilai-nilai keberlanjutan dan kemerdekaan pangan, sejalan dengan agenda diversifikasi pangan nasional. (3) Menguatkan keterlibatan emosional audiens, menciptakan resonansi dengan isu budaya dan lingkungan. (4) Memosisikan Cireundeu sebagai role model keamanan pangan berbasis kebijaksanaan lokal di Indonesia. Sehingga, digital storytelling memainkan peran strategis dalam membantu komunitas adat tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membangun merek yang kompetitif, relevan, dan efektif di era digital.

  1. Digital Storytelling on Instagram Content as a Brand for Food Security of the Indigenous Community of... doi.org/10.60046/jocrss.v3i2.268Digital Storytelling on Instagram Content as a Brand for Food Security of the Indigenous Community of doi 10 60046 jocrss v3i2 268
  2. Peranan budaya dan kepercayaan makan singkong masyarakat adat Cireundeu dalam menjaga kelestarian alam:... journal-iasssf.com/index.php/JSCSR/article/view/425Peranan budaya dan kepercayaan makan singkong masyarakat adat Cireundeu dalam menjaga kelestarian alam journal iasssf index php JSCSR article view 425
  3. Peran Storytelling dalam Membentuk Narasi yang Berdampak pada Era Digital | KOMUNIKA. peran storytelling... doi.org/10.22236/komunika.v12i2.18265Peran Storytelling dalam Membentuk Narasi yang Berdampak pada Era Digital KOMUNIKA peran storytelling doi 10 22236 komunika v12i2 18265
Read online
File size273.51 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test