UNSRIUNSRI

Jurnal EmpirikaJurnal Empirika

Penelitian ini mengkaji dengan menyoroti transformasi seni pertunjukan wayang Bali sebagai hasil pertemuan dua budaya (Bali dan Jepang). Tokoh utama Made, seorang dalang muda pewaris tradisi leluhur menghadapi dilema antara mempertahankan nilai-nilai adat dan menerima pengaruh budaya luar yang dibawa oleh Niluh, sahabatnya berdarah campuran Bali dan Jepang. Film ini merepresentasikan proses negosiasi identitas budaya dalam konteks modernisasi dan globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta strategi etnografi visual. Analisis didasarkan pada teori Hibriditas Homi Kharshedji Bhabha, meliputi konsep Ambivalensi, Mimikri, Ruang Ketiga, dan Metonimi Kehadiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wayang Bali tidak hanya digambarkan sebagai warisan tradisional, tetapi juga sebagai medium hibrid yang dinamis sehingga memungkinkan pembentukan identitas baru melalui interaksi lintas budaya. Dengan demikian, Made In Bali memperlihatkan bahwa identitas budaya bersifat cair, kontekstual, dan terus dinegosiasikan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian pelestarian budaya lokal melalui inovasi kreatif di era globalisasi.

Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa identitas budaya dalam film Made in Bali terbentuk melalui proses hibridisasi, yang bermula dari ketegangan antara upaya mempertahankan tradisi dan keterbukaan terhadap pengaruh global.Ketegangan tersebut melahirkan ambivalensi yang kemudian memunculkan proses mimikri, yaitu adopsi estetika anime Jepang yang dipadukan dengan simbol-simbol budaya Bali.Negosiasi budaya ini selanjutnya menciptakan ruang ketiga, tempat tradisi dan modernitas bertemu serta melahirkan identitas hibrid.Pada titik ini, terjadi pula pergeseran makna ketika elemen-elemen sakral Bali direinterpretasi menjadi medium ekspresi personal sekaligus sarana komunikasi lintas budaya.Dengan demikian, film ini menegaskan bahwa budaya tidak bersifat statis, tetapi selalu beradaptasi dan bertransformasi sesuai dinamika perkembangan zaman.Selanjutnya terdapat beberapa kesimpulan khusus yang penulis dapatkan yaitu.Identitas kultural generasi muda Bali terbentuk melalui dialektika antara kewajiban adat dan pilihan personal.Hal ini menegaskan bahwa identitas budaya senantiasa dinegosiasikan dalam konteks modernitas.Kontradiksi budaya yang muncul dalam film menunjukkan bahwa tradisi tidak hilang oleh globalisasi, melainkan membuka ruang negosiasi yang memperkaya pemaknaan identitas lokal.Modifikasi simbol dan bahasa dalam pertunjukan wayang memperlihatkan bentuk subversi budaya yang bersifat halus, dengan tidak menolak tradisi melainkan menafsirkannya ulang untuk menjawab kebutuhan ekspresi personal.Kehadiran budaya luar (Jepang) melahirkan ruang ketiga (third space) sebagai arena terbentuknya identitas hibrid, dimana tradisi Bali dipadukan dengan nilai global sehingga menghasilkan makna baru.Pergeseran makna simbol budaya dari sakral menjadi ekspresi personal menunjukkan bahwa budaya selalu terbuka pada reinterpretasi.Identitas budaya Bali dalam film ini tampil sebagai identitas cair, adaptif, dan hibrid.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada dampak hibriditas budaya terhadap pelestarian seni wayang Bali di era globalisasi. Selain itu, studi komparatif antara film Made in Bali dengan karya sastra atau film lain yang mengkaji hibriditas budaya dapat memberikan perspektif yang lebih luas. Terakhir, penelitian tentang penerimaan dan persepsi masyarakat Bali terhadap film Made in Bali dapat memberikan wawasan tentang penerimaan hibriditas budaya dalam konteks lokal.

  1. Representasi Budaya Bali pada Film A Perfect Fit: Analisis Semiotika Roland Barthes | MIMESIS. representasi... journal2.uad.ac.id/index.php/mimesis/article/view/9493Representasi Budaya Bali pada Film A Perfect Fit Analisis Semiotika Roland Barthes MIMESIS representasi journal2 uad ac index php mimesis article view 9493
Read online
File size879.46 KB
Pages37
DMCAReport

Related /

ads-block-test