STT KADESISTT KADESI

Jurnal Teologi (JUTEOLOG)Jurnal Teologi (JUTEOLOG)

Hidup manusia dalam ajaran Gereja Katolik memiliki nilai yang mulia dan suci. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa manusia diciptakan oleh Allah sesuai dengan gambar dan rupa-Nya. Oleh karena itu, kehidupan dipandang sebagai anugerah yang harus dihormati dan dilindungi, sehingga segala bentuk penolakan terhadap kehidupan (termasuk bunuh diri) merupakan penolakan terhadap anugerah ilahi. Namun, realitas tragis dan kompleks fenomena bunuh diri membuat Gereja Katolik tidak dapat tetap diam dan kaku dalam ajarannya, melainkan mengambil sikap tegas dan solutif dengan membuka diri terhadap beberapa disiplin ilmu terkait seperti psikologi, kedokteran, dan sosiologi, namun tetap mempertahankan nilai luhur kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif ajaran Gereja Katolik tentang bunuh diri, dengan menelusuri akar teologisnya dalam pandangan manusia sebagai ciptaan yang mulia dalam gambar Allah (imago Dei), perkembangan historisnya dari zaman kuno hingga era modern, dan penerapannya dalam dokumen Magisterium seperti Evangelium Vitae dan Katekismus Gereja Katolik. Pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur digunakan untuk mendukung penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketegangan antara ajaran tradisional dan belas kasihan pastoral, respons Gereja Katolik dengan memberikan aplikasi praktis, penafsiran ulang nilai kehidupan dalam konteks penderitaan, integrasi wawasan psikologis ke dalam teologi moral Katolik, serta tantangan dan peluang dalam masyarakat pluralistik.

Ajaran Gereja Katolik tentang bunuh diri menegaskan penolakan terhadap tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kasih Allah dan manusia, namun juga menunjukkan perkembangan dalam memahami faktor psikologis dan sosial yang memengaruhi tanggung jawab moral.Dalam praktik pastoral, Gereja mengadopsi pendekatan yang lebih empatik dan holistik, mengintegrasikan psikologi, kesehatan mental, dan pelayanan paliatif untuk mendukung individu dan keluarga yang terdampak.Prinsip kesucian hidup tetap dijunjung tinggi, sementara upaya pastoral berfokus pada pencegahan, penanganan penderitaan, dan penyediaan dukungan spiritual yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam konteks kemajuan medis dan pemahaman kesehatan mental, penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi dampak kolaborasi antara tenaga kesehatan spiritual dan psikiater dalam praktik pastoral, serta menilai efektivitas program pencegahan berbasis paroki yang mengintegrasikan pendekatan psikologis. Selanjutnya, studi longitudinal dapat diadakan untuk mengukur dampak jangka panjang dari program dukungan keluarga yang ditawarkan oleh gereja, sehingga dapat mengidentifikasi faktor-faktor kunci dalam proses penyembuhan emosional dan spiritual. Terakhir, penelitian multidisiplin yang melibatkan sosiolog, antropolog, dan ekonom dapat menganalisis bagaimana faktor sosial‑ekonomi, jaringan komunitas, serta kebijakan publik memengaruhi prevalensi bunuh diri, guna membangun strategi pencegahan yang lebih terarah dan berbasis bukti di masyarakat pluralistik.

  1. Nilai Kehidupan yang Luhur: Analisis Ajaran Gereja Katolik Tentang Bunuh Diri | Jurnal Teologi (JUTEOLOG).... ejurnal.sttkadesiyogyakarta.ac.id/index.php/juteolog/article/view/225Nilai Kehidupan yang Luhur Analisis Ajaran Gereja Katolik Tentang Bunuh Diri Jurnal Teologi JUTEOLOG ejurnal sttkadesiyogyakarta ac index php juteolog article view 225
  2. Keluhuran Martabat Manusia sebagai Imago Dei : Pandangan Teologi Gereja Katolik | Jurnal Magistra. keluhuran... doi.org/10.62200/magistra.v2i4.187Keluhuran Martabat Manusia sebagai Imago Dei Pandangan Teologi Gereja Katolik Jurnal Magistra keluhuran doi 10 62200 magistra v2i4 187
Read online
File size863.83 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test