UIN SGDUIN SGD

IJNIIJNI

Di era digital saat ini, apologetik Islam telah beralih dari debat teologis tradisional ke penyajian yang lebih dinamis dan publik. Media sosial kini menjadi panggung bagi tokoh seperti Bang Zuma untuk membela keyakinannya melalui gerakan berani dan narasi berorientasi identitas. Fenomena ini mencerminkan konsep politik representasi Stuart Hall, di mana kelompok lain digambarkan sebagai lawan simbolis dalam perjuangan budaya atas makna dan kekuasaan. Dengan menggunakan Analisis Diskursus Kritis (Critical Discourse Analysis) Teun A. van Dijk, penelitian ini menganalisis dua video YouTube Bang Zuma dari tiga perspektif: makrostruktur (tema ideologis besar), superstruktur (pembangunan argumen), dan mikrostruktur (bahasa dan gaya). Hasilnya menunjukkan pertempuran simbolik yang menegaskan dominasi Islam sekaligus menurunkan pihak lain. Melalui pemilihan kata, simbol keagamaan yang berulang, dan gaya komunikasi yang mencolok, iman menjadi performa moral yang memadukan teologi dengan spektakuler. Pada akhirnya, apologetik digital ini berfungsi tidak hanya untuk mempertahankan kepercayaan, tetapi juga menjadi pertunjukan ideologis yang memperkuat otoritas keagamaan sekaligus memperdalam perpecahan sosial dan religius, menyoroti bagaimana agama menyesuaikan diri dengan logika media di mana representasi menjadi pertarungan makna dan identitas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa apologetik Islam digital bertransformasi menjadi pertunjukan yang terstruktur secara ideologis, di mana Bang Zuma memposisikan Islam sebagai kebenaran absolut dan pihak lain sebagai orang lain yang salah.Melalui pola naratif, gaya retoris, dan rekaman visual yang diselaraskan dengan algoritma media, ia memperkuat identitas kelompok mayoritas serta memperdalam polaritas.Akibatnya, diskursus teologis digeser dari dialog ke perang identitas, dan literasi keagamaan publik menjadi lebih rentan terhadap pandangan yang eksklusif.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi pola interaksi antara penonton dan konten apologetik pada platform media sosial melalui analisis jaringan komentar untuk memahami dinamika pembuatan konsensus otoritas digital; sekaligus meneliti dampak jangka panjang dari retorika us vs. them terhadap kesediaan masyarakat berinteraksi dalam diskusi interfaith, menggunakan pendekatan survei longitudinal yang mengukur perubahan sikap; dan pada akhirnya, mengkaji efektivitas strategi moderasi konten yang menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan mitigasi polaritas, dengan memanfaatkan studi kasus intervensi algoritma berbasis etika di platform populer di Indonesia.

  1. Nationalism in the Digital Age: Fun as a Metapractice of Extreme Speech. nationalism digital age fun... doi.org/10.5282/ubm/epub.69633Nationalism in the Digital Age Fun as a Metapractice of Extreme Speech nationalism digital age fun doi 10 5282 ubm epub 69633
  2. Polarization of Religious Issues in Indonesia’s Social Media Society and Its Impact on Social Conflict... doi.org/10.47738/jads.v6i1.447Polarization of Religious Issues in IndonesiaAos Social Media Society and Its Impact on Social Conflict doi 10 47738 jads v6i1 447
  3. Critical Discourse Analysis - The Handbook of Discourse Analysis - Wiley Online Library. critical discourse... doi.org/10.1002/9781118584194.ch22Critical Discourse Analysis The Handbook of Discourse Analysis Wiley Online Library critical discourse doi 10 1002 9781118584194 ch22
  4. Propaganda and Political Memes on Social Media in the 2019 Indonesian Presidential Election | Journal... doi.org/10.18196/jiwp.v6i2.16115Propaganda and Political Memes on Social Media in the 2019 Indonesian Presidential Election Journal doi 10 18196 jiwp v6i2 16115
Read online
File size401.72 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test