UGMUGM

Jurnal PolGovJurnal PolGov

Artikel ini bertujuan mengelaborasi bagaimana strategi gerakan sosial minoritas keagamaan Syiah dalam bentuk repertoir sehari‑hari mendapatkan penerimaan sosial di bawah dominasi mayoritas warga NU (Sunni) di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kasus yang didalami dalam artikel ini adalah aktivitas IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bayt Indonesia) di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Konsep contentious politics digunakan untuk memahami prakondisi bagi kemunculan IJABI Jember. Selanjutnya, konsep repertoir bermanfaat untuk menjelaskan apa saja upaya IJABI dalam menegaskan klaim keberadaan mereka di Jember. Artikel ini berargumentasi bahwa sempitnya struktur kesempatan politik mayoritas yang tidak mengizinkan nilai keyakinan yang dianggap menyimpang membuat gerakan Syiah mengalami tekanan dalam melakukan klaim teologis mereka. Respons terhadap hal ini dilakukan oleh IJABI berpartisipasi dalam kegiatan yang secara implisit dan halus dengan target diterima secara sosial. Bentuk kegiatannya berupa aksi filantropi tanggap bencana dan menyediakan jasa spiritual secara cuma‑cuma bagi masyarakat. Menggunakan pendekatan dan teknik pengumpulan metode kualitatif, artikel berbasis pada data lapangan hasil wawancara mendalam dan observasi partisipan sepanjang bulan November 2014 – April 2015.

Gerakan sosial minoritas Syiah dapat memperoleh penerimaan sosial dari mayoritas apabila mengadopsi repertoir tidak langsung yang menyoroti dimensi sosial‑ekonomi dan menghindari klaim teologis di ruang publik.Ketika struktur kesempatan politik artifisial menutup peluang klaim doktrin, gerakan menyesuaikan strategi dengan memanfaatkan struktur kesempatan natural, seperti bencana alam, yang memfasilitasi aksi filantropi.Kesuksesan operasi filantropi dalam situasi tersebut memvalidasi bahwa pendekatan konformis, lebih fokus pada kebutuhan sosial, lebih efektif dalam membangun legitimasi dibandingkan pendekatan konfrontatif.

Berikut saran penelitian lanjutan: (1) Pertanyaan: Bagaimana gerakan minoritas keagamaan lain, misalnya komunitas Muslimis yang tidak bersifat Syiah, menyesuaikan repertoir konformis mereka bila menghadapi dominasi mayoritas di konteks sosial-ekonomi berbeda; (2) Pertanyaan: Dalam situasi krisis sosial, apakah kerjasama antara gerakan minoritas dan otoritas lokal dapat meningkatkan efektivitas repertoir filantropi tanpa memicu ketegangan politik; dan (3) Pertanyaan: Bagaimana praktik taqiyyah (penyembunyian keyakinan) memengaruhi persepsi mayoritas terhadap gerakan minoritas di ruang publik ketika tidak ada intervensi fisik? Penelitian dapat mengeksplorasi kondisi tersebut di wilayah lain di Indonesia dengan metode studi perbandingan dan analisis jaringan media sosial untuk menilai dampak repertoir terhadap persepsi mayoritas.

Read online
File size178.79 KB
Pages32
DMCAReport

Related /

ads-block-test