UGMUGM

Jurnal KawistaraJurnal Kawistara

Penelitian ini menganalisis Candi Kalasan sebagai entitas keagamaan dan politik yang mengartikulasikan dan memobilisasi ideologi Buddha Mahayana untuk memperkuat legitimasi dinasti selama dinasti Śailendra pada abad kedelapan di Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-arkeologis, secara sistematis menerapkan heuristik, evaluasi kritis sumber, interpretasi, dan historiografi terhadap data primer, khususnya Prasasti Kalasan (778 M) dan karakteristik arsitektur dan ornamen candi, serta beasiswa sekunder dalam sejarah, arkeologi, dan studi Buddhis. Penelitian ini menafsir ulang data epigrafi dan arsitektur dengan menempatkan Kalasan dalam kerangka kerja monumen Buddhis kontemporer di Jawa Tengah, seperti Sari, Plaosan, dan kompleks Borobudur, untuk mengevaluasi pola ideologis dan strategi institusional yang umum, daripada menganggap literatur yang ada sebagai otoritas deskriptif. Analisis mengungkapkan bahwa pendirian Kalasan sebagai Bhavanam, didukung oleh patronase kerajaan dan hibah tanah simā, menandakan penggabungan yang disengaja dari praktik pengabdian Mahayana ke dalam kerangka politik Mataram Kuno. Penelitian ini menunjukkan, melalui analisis arsitektur dan kontekstual komparatif, bahwa Buddhisme Mahayana berfungsi sebagai religiositas elite dan kerangka legitimasi yang menghubungkan penguasa, komunitas monastik, dan masyarakat.

Kalasan Temple exemplifies that eighth-century Javas religious architecture served not merely as a sacred space but also as a strategic tool for expressing and legitimizing dynastic power.The temple, founded under the auspices of the Śailendra dynasty during Rakai Panangkarans reign, functioned as a Tārā Bhavanam, institutionalizing Mahayana Buddhist devotion within the political context of Ancient Mataram.The integration of architectural design, epigraphic narrative, and religious iconography demonstrates that Kalasan Temple functioned as a tangible embodiment of power, wherein spiritual authority and political legitimacy were intentionally interwoven.

Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara Candi Kalasan dan kompleks keagamaan lain di Jawa Tengah, seperti Sari dan Borobudur, untuk memahami lebih dalam jaringan keagamaan dan politik yang ada pada masa dinasti Śailendra. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada peran perempuan dalam agama Buddha Mahayana pada masa itu, dengan meneliti lebih lanjut tentang figur Tārā dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis bagaimana ideologi Buddhis Mahayana diadaptasi dan diintegrasikan dengan kepercayaan dan praktik lokal di Jawa, sehingga menghasilkan bentuk Buddhisme yang unik dan khas di Indonesia.

  1. DOI Name 10.33541 Values. name values index type timestamp data serv crossref email support desc prefix... doi.org/10.33541DOI Name 10 33541 Values name values index type timestamp data serv crossref email support desc prefix doi 10 33541
  2. The Last Cakravartin? The Gujarat Sultan as ‘Universal King’ in Fifteenth Century Sanskrit... doi.org/10.1177/097194581301600103The Last Cakravartin The Gujarat Sultan as AoUniversal KingAo in Fifteenth Century Sanskrit doi 10 1177 097194581301600103
  3. Architecture, Devotion, and Power: The Kalasan Temple and Buddhist Legitimation under the Śailendra... doi.org/10.22146/kawistara.108233Architecture Devotion and Power The Kalasan Temple and Buddhist Legitimation under the oailendra doi 10 22146 kawistara 108233
Read online
File size548.56 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test