UIN SGDUIN SGD

IJNIIJNI

Mahabbah, yang berasal dari kata dasar habba, merujuk pada keterikatan emosional yang mendalam dan pengabdian abadi seorang hamba kepada Allah, yang mewakili elemen sentral dari spiritualitas Islam. Terkait erat dengan Lailatul Qadar, malam suci selama sepuluh hari terakhir Ramadan, mahabbah berfungsi tidak hanya sebagai ekspresi pribadi dari cinta ilahi tetapi juga sebagai fondasi untuk kesadaran keagamaan kolektif dan tanggung jawab sosial. Studi ini bertujuan untuk menguji bagaimana anggota Majelis Dhikr di Masjid Nurul Huda di Kampung Kudang, Bandung, menumbuhkan cinta kepada Allah melalui pertemuan keagamaan yang konsisten dan keterlibatan komunal, khususnya dalam persiapan menyambut Lailatul Qadar. Menggunakan metode deskriptif kualitatif yang didukung oleh wawancara dan dokumentasi, temuan mengungkapkan bahwa praktik-praktik dzikir, pembelajaran Al-Quran, dan inisiatif sosial secara signifikan memengaruhi karakter moral dan perilaku peserta, menumbuhkan budaya kasih sayang, solidaritas, dan saling membantu. Integrasi pengabdian spiritual dengan tindakan sosial ini mengilustrasikan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat membentuk kehidupan masyarakat yang transformatif. Studi ini menyimpulkan bahwa pendekatan berkelanjutan terhadap Lailatul Qadar melalui ibadah komunal terstruktur berkontribusi pada peningkatan kesadaran spiritual yang lebih dalam dan memperkuat identitas keagamaan yang terlibat secara sosial dalam masyarakat Muslim kontemporer.

Studi ini menyimpulkan bahwa pendekatan berkelanjutan terhadap Lailatul Qadar melalui ibadah komunal terstruktur berkontribusi pada peningkatan kesadaran spiritual yang lebih dalam dan memperkuat identitas keagamaan yang terlibat secara sosial dalam masyarakat Muslim kontemporer.Kegiatan ini tidak hanya memfokuskan pada ritual ibadah, tetapi juga pada tindakan sosial yang nyata, menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dapat terwujud dalam kepedulian terhadap sesama.Dengan demikian, studi ini memberikan model komunitas yang mampu mengintegrasikan dimensi spiritual dan sosial dalam praktik keagamaan.

Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penting untuk meneliti lebih dalam bagaimana faktor-faktor sosio-ekonomi memengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan seperti dzikir, terutama dalam konteks urban seperti Kampung Kudang. Hal ini dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang motivasi dan tantangan yang dihadapi oleh individu dalam menjalankan ibadah. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada bagaimana praktik dzikir dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan karakter di sekolah-sekolah, dengan tujuan menumbuhkan nilai-nilai moral dan spiritual pada generasi muda. Pendekatan ini dapat membantu menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia. Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan kegiatan keagamaan dan menjangkau masyarakat yang lebih luas, misalnya melalui platform online atau aplikasi seluler yang menyediakan konten keagamaan dan memfasilitasi interaksi antar umat. Dengan menggabungkan teknologi dan tradisi keagamaan, diharapkan dapat menciptakan ekosistem spiritual yang lebih dinamis dan inklusif.

  1. Cultivating Divine Love via Lailat al-Qadr: Insights from Mosque Dhikr Gatherings | International Journal... doi.org/10.15575/ijni.v14i1.47379Cultivating Divine Love via Lailat al Qadr Insights from Mosque Dhikr Gatherings International Journal doi 10 15575 ijni v14i1 47379
Read online
File size355.31 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test