UINUIN

Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ)Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ)

Metodologi utama pengobatan pneumonia adalah terapi antibiotik, namun pemakaian yang tidak tepat dapat mempercepat resistensi bakteri dan menurunkan efektivitas terapeutik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola penggunaan antibiotik pada pasien pediatrik dan dewasa dengan pneumonia di rumah sakit di Kota Bima, serta meneliti faktor-faktor yang memengaruhi lama rawat inap selama periode Januari hingga Agustus 2020. Evaluasi dilakukan dengan metodologi WHO ATC/DDD bersamaan dengan analisis DU90% menggunakan desain cross‑sectional deskriptif. Data diambil secara retrospektif dari rekam medis, dengan total sampling. Sebanyak 95 pasien memenuhi kriteria inklusi, mencakup semua kategori usia dengan dokumentasi lengkap. Analisis kuantitatif menunjukkan konsumsi antibiotik total pada pasien pediatrik mencapai 39,27 DDD per 100 hari pasien, sedangkan pada dewasa mencapai 121,26 DDD per 100 hari pasien. Ceftriaxone menjadi antibiotik dengan nilai DDD tertinggi pada kedua kelompok usia, dengan 19,53 dan 98,00 DDD/100 hari pasien berturut‑turut. Pada kelompok pediatrik, antibiotik dalam segmen DU90% meliputi ceftriaxone, gentamis, cefotaxime, dan azitromisin, sedangkan pada dewasa segmen DU90% terdiri dari ceftriaxone dan azitromisin. Sebanyak 97,6 persen resep sesuai formulir rumah sakit. Analisis bivariate menunjukkan bahwa keberadaan komorbiditas berasosiasi secara signifikan dengan lama rawat inap (p < 0,05), sementara usia pasien dan status gizi tidak menunjukkan asosiasi signifikan (p > 0,05). Secara keseluruhan, temuan menunjukkan dominasi penggunaan ceftriaxone dalam manajemen pneumonia di rumah sakit tersebut. Hasil ini menekankan pentingnya pengawasan kuantitatif berkelanjutan untuk memantau tren preskripsi dan mendukung pelaksanaan program stewardship antimikroba guna meminimalkan risiko resistensi serta menjaga hasil terapeutik optimal.

Penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia di Bima didominasi oleh ceftriaxone dengan konsumsi tinggi pada kedua kelompok usia.Tingkat kepatuhan terhadap formulir rumah sakit sangat tinggi (97,6 %) namun penggunaan antibiotik yang sempit dapat meningkatkan tekanan selektif terhadap bakteri.Komorbiditas berhubungan dengan lama rawat inap yang lebih lama, menyoroti perlunya perhatian khusus terhadap pasien dengan kondisi kesehatan tambahan.

Penelitian lanjutan dapat mengevaluasi efektivitas intervensi stewardship berbasis komputer untuk mendukung pemilihan antibiotik yang lebih rasional di rumah sakit kelas C seperti di Bima, dengan fokus pada pemantauan real‑time penggunaan ceftriaxone dan penurunan kasus resistensi; melakukan studi longitudinal yang melacak perubahan pola penggunaan antibiotik dan resistensi mikroba setelah menerapkan program educational–clinical pathway pada tenaga kesehatan, serta mengkaji dampak integrasi data elektronik rekam medis (EMR) pada kecepatan dan akurasi pengambilan keputusan terapi antibiotik di unit perawatan intensif; serta menyelidiki hubungan antara lama rawat inap, komorbiditas, dan penggunaan antibiotik melalui analisis multivariat yang lebih komprehensif, guna mengidentifikasi variabel intervensi yang paling berpengaruh dan memfasilitasi perencanaan kebijakan kesehatan yang berorientasi pada hasil klinis yang optimal.

  1. Antimicrobial Resistance | IDR | Dove Medical Press. resistance dove medical press doi.org/10.2147/IDR.S234610Antimicrobial Resistance IDR Dove Medical Press resistance dove medical press doi 10 2147 IDR S234610
Read online
File size349.11 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test