UINUIN

Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ)Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ)

WHO mengklasifikasikan antibiotik ke dalam kategori AWaRe (Access, Watch, Reserve) untuk mendorong penggunaan antibiotik yang rasional dan membatasi pemakaian antibiotik berspektrum luas. Indonesia merespons kebijakan global tersebut dengan menerbitkan Pedoman Nasional Penggunaan Antibiotik melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2021 (PMK 28/2021), yang memperkuat implementasi program antimicrobial stewardship (AMS) di rumah sakit. Meskipun WHO menempatkan meropenem dalam kelompok Watch, pedoman nasional mengkategorikannya sebagai antibiotik Reserve, sehingga menegaskan perannya sebagai terapi lini terakhir pada infeksi akibat bakteri multiresisten dan pentingnya pengawasan ketat terhadap penggunaannya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dampak penerapan PMK 28/2021 terhadap penggunaan meropenem di sebuah rumah sakit pendidikan di Indonesia serta menilai posisinya dalam kelompok Drug Utilization 90% (DU90%) selama periode 2020–2022. Studi potong lintang ini menggunakan data agregat penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap dengan pembagian periode pre-intervention (Mei 2020–Agustus 2021) dan post-intervention (September 2021–Desember 2022). Penggunaan antibiotik dinyatakan dalam Defined Daily Doses per 100 patient-days (DDD/100 PD) berdasarkan metodologi ATC/DDD, dan indikator DU90% digunakan untuk mengidentifikasi antibiotik yang mencakup 90% dari total penggunaan. Hasil analisis menunjukkan penurunan bermakna pada nilai DDD/100 PD sebesar 43% untuk meropenem pada periode post-intervention (t = 4,427; p < 0,05), yang mengindikasikan potensi efektivitas pedoman dalam membatasi dan mengoptimalkan penggunaannya. Namun demikian, selama 2020–2022 meropenem tetap berada dalam kategori DU90%, menandakan bahwa meskipun penggunaannya menurun, antibiotik ini masih menyumbang porsi besar dari total konsumsi antibiotik di rumah sakit. Temuan ini mempertegas pentingnya keberlanjutan implementasi Permenkes 28/2021 serta penguatan program AMS guna menjaga efektivitas meropenem dan menekan risiko resistensi antimikroba.

Penerapan Pedoman Nasional Penggunaan Antibiotik terbukti memberikan dampak positif terhadap penurunan tingkat penggunaan antibiotik golongan karbapenem, khususnya meropenem, di rumah sakit pendidikan.Penurunan ini menandakan adanya peningkatan efektivitas kebijakan nasional dalam mengarahkan praktik terapi antibiotik yang lebih rasional serta sesuai dengan prinsip pengendalian antimikroba.Hasil penelitian ini juga mencerminkan keberhasilan awal dalam menekan ketergantungan terhadap antibiotik golongan Reserve, sekaligus menunjukkan peningkatan kesadaran tenaga kesehatan terhadap pentingnya pemilihan antibiotik berdasarkan indikasi klinis, tingkat keparahan infeksi, dan hasil uji kepekaan mikrobiologi.Namun demikian, hasil analisis menunjukkan bahwa meropenem masih konsisten berada dalam segmen DU90% selama periode 2018–2022.Hal ini menandakan bahwa meskipun terjadi penurunan konsumsi, meropenem tetap menjadi salah satu antibiotik yang paling sering digunakan di rumah sakit.Kondisi tersebut mengindikasikan perlunya pemantauan berkelanjutan, audit penggunaan antibiotik secara rutin, serta penguatan kebijakan restriksi dan pengawasan klinis untuk memastikan bahwa penggunaan meropenem dan antibiotik lain tetap rasional, efektif, dan berkelanjutan dalam upaya mencegah peningkatan resistensi antimikroba di masa mendatang.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan untuk memperdalam pemahaman mengenai penggunaan antibiotik dan resistensi antimikroba. Pertama, perlu dilakukan penelitian longitudinal yang lebih panjang untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari implementasi pedoman nasional terhadap pola resistensi bakteri dan luaran klinis pasien. Penelitian ini dapat melibatkan pemantauan berkala terhadap tingkat resistensi terhadap meropenem dan antibiotik lain pada berbagai jenis bakteri patogen. Kedua, penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk menggali lebih dalam persepsi dan pengalaman dokter serta tenaga kesehatan lainnya terkait dengan implementasi pedoman nasional dan program antimicrobial stewardship. Penelitian ini dapat membantu mengidentifikasi hambatan dan faktor-faktor yang memfasilitasi penerapan pedoman, serta memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas program. Ketiga, penelitian komparatif dapat dilakukan untuk membandingkan efektivitas berbagai strategi antimicrobial stewardship dalam mengurangi penggunaan antibiotik dan meningkatkan kualitas terapi. Penelitian ini dapat melibatkan perbandingan antara rumah sakit yang menerapkan berbagai model AMS, seperti pendekatan berbasis tim multidisiplin, pendekatan berbasis audit, atau pendekatan berbasis edukasi. Dengan menggabungkan ketiga saran penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan dan peluang dalam pengendalian resistensi antimikroba, serta memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan dan program yang lebih efektif.

  1. Antibiotic Use Evaluation Based on AWaRe Classification in Hospitalized Patients (Intensive and Non-Intensive... jsfk.ffarmasi.unand.ac.id/index.php/jsfk/article/view/1611Antibiotic Use Evaluation Based on AWaRe Classification in Hospitalized Patients Intensive and Non Intensive jsfk ffarmasi unand ac index php jsfk article view 1611
Read online
File size310.78 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test