USUUSU

KomunikaKomunika

Munculnya budaya baru juga terjadi seiring era disrupsi digital. Media digital menjadikan jurnalisme mengalami transformasi. Dalam konteks tersebut, teknologi dapat mempengaruhi jurnalisme dalam empat hal yaitu: a) cara kerja para jurnalis dalam mencari informasi; b) sifat konten berita; c) struktur organisasi media di dalam ruang redaksi: dan d) sifat hubungan antara media, reporter dengan sejumlah publik seperti khalayak, kompetitor, sumber berita, sponsor, serta regulasi yang dapat mengendalikan pers. Selain kompetensi para jurnalis, kultur organisasi juga mengalami perubahan seiring upaya untuk beradaptasi dengan digitalisasi. Perubahan budaya dapat dialami oleh jurnalis yang berpindah dari media cetak ke media online. Para jurnalis tersebut harus beradaptasi dengan suasana, cara dan budaya kerja baru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara tatap muka dengan informan. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria informan yang dibutuhkan dengan menggunakan sampling purposif, yaitu jurnalis di Kota Medan yang pindah dari media cetak ke media online. Berdasarkan hasil penelitian, ketiga informan mengalami perubahan budaya paling signifikan pada suasana kerja serta cara dan budaya kerja. Perubahan budaya dapat dilihat melalui dimensi culture shock; affective, behavior, dan cognitive. Proses ketiga informan dalam menghadapi perubahan budaya kerja, dapat dianalisis menggunakan 4 tahapan dalam culture shock, yakni: Honeymoon Stage, Rejection or Regression Stage, Adjustment or Negotiation Stage, Mastery Stage.

Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa jurnalis yang berpindah dari media cetak ke media online mengalami cultural shock dalam tiga aspek.perubahan suasana kerja (affective), perubahan budaya kerja (behavior), dan perubahan persepsi dan nilai (cognitive).Perubahan budaya yang paling signifikan dirasakan oleh jurnalis adalah dalam suasana dan budaya kerja.Proses cultural shock yang dialami oleh jurnalis dalam penelitian ini mengikuti empat tahap.Honeymoon Stage, Rejection or Regression Stage, Adjustment or Negotiation Stage, dan Mastery Stage.Untuk mendukung jurnalis dan organisasi media yang menghadapi transisi serupa, disarankan untuk menerapkan pelatihan komprehensif yang melatih jurnalis dalam keterampilan digital, termasuk storytelling multimedia, analisis data, dan keterlibatan media sosial, sambil memperkuat pentingnya etika jurnalistik dan akurasi.Selain itu, perlu didirikan program bimbingan dan jaringan dukungan sesama untuk membantu jurnalis menghadapi tantangan emosional dan profesional dalam transisi ke media online, menciptakan rasa komunitas dan kolaborasi.Kebijakan kerja fleksibel juga harus diterapkan untuk mengakomodasi kebutuhan beragam jurnalis, seperti pilihan kerja jarak jauh dan jam kerja fleksibel, sambil memastikan bahwa pengawasan editorial dan kontrol kualitas tetap terjaga.Investasi teknologi yang membantu faktachecking, manajemen konten, dan alur kerja kolaboratif juga penting untuk menyederhanakan proses tanpa mengorbankan kualitas pelaporan.Akhirnya, pedoman etika dan praktik terbaik yang jelas harus dikembangkan untuk menyeimbangkan tuntutan kecepatan dengan kebutuhan akurasi, memastikan bahwa jurnalis mampu menghasilkan konten yang andal dan dapat dipercaya di era digital.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk menyelidiki lebih lanjut dampak cultural shock pada kualitas pelaporan dan praktik jurnalistik di era digital. Penelitian ini dapat berfokus pada dampak jangka panjang cultural shock pada jurnalis, termasuk dampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan mereka. Selain itu, penelitian dapat mengeksplorasi strategi konkret yang dapat diterapkan oleh organisasi media untuk mendukung jurnalis dalam transisi ke media online, seperti pelatihan khusus, dukungan psikologis, dan pengembangan alur kerja yang lebih kolaboratif. Penelitian juga dapat menyelidiki peran teknologi dalam membantu jurnalis beradaptasi dengan budaya kerja baru, serta dampak teknologi pada kualitas pelaporan dan etika jurnalistik. Akhirnya, penelitian dapat menganalisis dampak cultural shock pada hubungan antara jurnalis dan sumber berita, serta bagaimana organisasi media dapat membantu jurnalis dalam membangun hubungan yang kuat dan terpercaya dengan sumber berita di era digital.

Read online
File size235.65 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test