TRISAKTITRISAKTI

International Journal on Livable SpaceInternational Journal on Livable Space

Pengembangan penduduk dan infrastruktur di kota dapat meningkatkan ekonomi lokal, seperti terlihat di koridor Jalan Letda Sujono. Kawasan ini, yang terletak di antara Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang serta berdekatan dengan Gerbang Tol Bandar Selamat, telah mengalami pertumbuhan signifikan dalam aktivitas perdagangan dan layanan. Pertumbuhan ini memicu pembangunan perumahan, layanan publik, ruang komersial, pergudangan, dan industri, meningkatkan permintaan lahan, serta menimbulkan konflik penggunaan lahan dan masalah lalu lintas. Penggunaan ruang yang tidak sesuai dapat menyebabkan pertumbuhan kota yang tidak terkontrol, seringkali akibat pengendalian perencanaan ruang yang tidak memadai. Rencana Detail Tata Ruang (DSP) Kota Medan menetapkan koridor Jalan Letda Sujono sebagai Zona Sub-Kegiatan Perdagangan, dengan peraturan zonasi membatasi beberapa aktivitas pada 10% dari luas blok. Penelitian ini bertujuan mempelajari kesesuaian aktivitas yang ada dengan rencana zonasi DSP untuk menciptakan perencanaan ruang yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Fokus analisis menunjukkan bahwa 60,84% aktivitas di zona sub-kegiatan perdagangan sesuai regulasi, sementara 39,16% tidak.Beberapa blok, khususnya Blok 17‑07‑01 di Tembung, melebihi batas 10% aktivitas, menandakan pelaksanaan zonasi belum sepenuhnya terwujud.Terdapat aktivitas tidak sah seperti sekolah terintegrasi dan layanan terkait kendaraan yang masih ada.Oleh karena itu, perlunya penegakan kebijakan zonasi dan revisi peraturan DSP agar lebih efektif dalam mengendalikan penggunaan ruang.

Pertama, lakukan evaluasi sistemik terhadap blok-blok di sepanjang koridor Jalan Letda Sujono dengan memanfaatkan teknologi real‑time monitoring sehingga dapat mengidentifikasi aktivitas yang melanggar batas 10% secara lebih akurat dan cepat. Kedua, desain studi longitudinal yang meneliti dampak intervensi peraturan zonasi baru terhadap intensitas lalu lintas dan kualitas udara, agar kebijakan tidak hanya menegakkan batasan tetapi juga meminimalkan polusi dan kemacetan. Ketiga, kembangkan kerangka kerja partisipatif yang melibatkan masyarakat lokal, pengusaha, dan pemerintah daerah untuk menyusun pedoman zonasi berbasis kebutuhan komunitas sambil memadukan prinsip pengembangan berkelanjutan, sehingga perencanaan ruang menjadi lebih responsif dan inklusif.

  1. PEDESTRIAN PATHS UTILIZATION: SAFETY AND ATTRACTIVENESS ASPECTS (Case Study: Ir. H Juanda Raya Sidewalk,... doi.org/10.25105/livas.v6i2.10029PEDESTRIAN PATHS UTILIZATION SAFETY AND ATTRACTIVENESS ASPECTS Case Study Ir H Juanda Raya Sidewalk doi 10 25105 livas v6i2 10029
  2. THE SUITABILITY OF ACTIVITIES IN THE TRADE SUB-ZONE (THE CORRIDOR OF LETDA SUJONO ROAD, MEDAN TEMBUNG... e-journal.trisakti.ac.id/index.php/livas/article/view/20194THE SUITABILITY OF ACTIVITIES IN THE TRADE SUB ZONE THE CORRIDOR OF LETDA SUJONO ROAD MEDAN TEMBUNG e journal trisakti ac index php livas article view 20194
Read online
File size1.14 MB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test