IAISAMBASIAISAMBAS

Archipelago Journal of Southeast Asia Islamic StudiesArchipelago Journal of Southeast Asia Islamic Studies

Penelitian ini membahas puncak perjalanan sufistik. Hal ini disebut demikian karena masalah sufisme dalam pluralitas ajaran Islam pada zaman Nabi tidak ada. Namun, pertanyaan tentang sufisme adalah urusan manusia. Masalah umat Muslim yang problematis, dialektis, dan humanis terkait etos pandangan dan implikasinya terhadap wawasan tentang Tuhan. Tentu saja, yang dibahas dalam penelitian ini adalah mereka yang menuju puncak simpatik sehingga menemukan puncak kebahagiaan dalam diri mereka sendiri. Fokus dalam penelitian ini adalah bagaimana memahami perjalanan fisik? Dan bagaimana analisis mencapai puncak sufistik dengan pendekatan metodologis?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian literatur dengan pendekatan historis. Hasil penelitian ini adalah untuk mendekat sedekat mungkin kepada Tuhan, sehingga dapat dilihat dengan mata hati bahwa bahkan jiwa seseorang dapat bersatu dengan Jiwa Tuhan. Metode yang ditempuh untuk mencapai puncak pencapaian sufistik, sangat panjang dan berliku. Bahkan keadaan yang dialami ketika ia mencapai puncak sangat bervariasi dan beragam.

Berdasarkan uraian dan kajian yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut.Ajaran sufisme pada dasarnya merupakan ekspresi keagamaan, yaitu komitmen moral dan keyakinan orang-orang yang saleh secara religius.Hal ini karena sufisme berfungsi untuk mengakomodasi dan menstabilkan komitmen moral umat beriman sehingga sufisme menyediakan tempat untuk kehidupan spiritual.Dengan spiritualitas yang suci dan bersih, sufi memungkinkan dirinya untuk mencapai puncak pencapaian sufistik, yaitu membangun komunikasi, bahkan bersatu (ittihad) dengan Tuhannya.Untuk mencapai puncak pencapaian sufistik, dibutuhkan perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, karena harus melewati berbagai maqam dan hal-hal.Maqam adalah tingkatan pencapaian ruhaniah dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, yang merupakan hasil dari upaya seorang sufi, artinya suasana batin yang selalu mengelilingi perasaan calon sufi di setiap maqam yang selalu bergerak naik selangkah demi selangkah menuju tingkat tertinggi perjalanannya, yaitu puncak pencapaian sufistik.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan juga bagian saran penelitian lanjutan, beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan adalah: Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana faktor sosial-ekonomi memengaruhi interpretasi dan praktik sufisme di berbagai komunitas Muslim. Hal ini dapat membantu memahami bagaimana sufisme beradaptasi dengan konteks lokal yang berbeda dan bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis komparatif antara berbagai aliran sufisme, dengan tujuan mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dalam ajaran dan praktik mereka. Hal ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang keragaman sufisme dan bagaimana berbagai aliran berkontribusi pada perkembangan pemikiran Islam. Ketiga, penelitian dapat menyelidiki peran perempuan dalam sejarah sufisme, dengan menyoroti kontribusi mereka terhadap ajaran dan praktik sufisme. Hal ini dapat membantu mengatasi bias gender dalam studi sufisme dan memberikan apresiasi yang lebih besar terhadap peran perempuan dalam tradisi sufistik.

Read online
File size608.74 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test