PDGIPDGI

Journal of Indonesian Dental AssociationJournal of Indonesian Dental Association

Pendahuluan: Focal fibrous hyperplasia (FFH) merupakan tumor gingiva yang terlokalisasi, yang sering dijumpai pada gingiva. Ukuran lesi ini bervariasi, ada yang mencapai beberapa milimeter, hingga satu sentimeter bahkan lebih. Lesi ini dapat bertangkai atau bertangkai, dalam konsistensi, dan dapat bervariasi warnanya dari merah muda hingga merah, tergantung pada tingkat vaskularisasi. Secara umum, lesi ini dapat dipertimbangkan sebagai lesi reaktif, yang sering dikaitkan dengan iritasi kronis atau trauma pada gingiva. Tujuan: Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk membagikan pengalaman klinis mengenai penatalaksanaan FFH menggunakan teknik kombinasi jahitan dengan pisau bedah, sehingga dapat meningkatkan kemampuan praktiksi medis dalam menangani lesi ini. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 19 tahun datang ke rumah sakit gigi mulut Universitas Gadjah Mada, dengan keluhan utama terdapat pembesaran pada gusi gigi depan bawah, yang membuatnya tidak percaya diri saat tersenyum. Keluhan ini sudah dirasakan 3 tahun yang lalu, semenjak ia masuk sekolah menengah atas. Terdapat pembesaran gingiva berukuran 13mm x 5mm x 8mm, dengan konsistensi padat yang jelas, warna sewarna dengan mukosa mulut, dan tidak terdapat rasa sakit. Pada pemeriksaan radiografis, tidak terdapat kerusakan tulang pada daerah sekitar lesi. Secara histopatologis FFH mempunyai karakteristik yaitu massa nodular tidak berkapsul, solid, yang berasal dari jaringan ikat fibrosa yang padat dan terkadang terhialinisasi. Pada bagian permukaan luar epitel atrofik, namun dapat memperlihatkan tanda trauma terus menerus, yang ditunjukan dengan terbentuknya jaringan keratin yang berlebihan, edema intraseluler pada lapisan superficial, atau ulserasi traumatik. Perawatan yang dipilih untuk menangani lesi ini yaitu dengan prosedur eksisi dan gingivoplasti menggunakan bahan anestesi lokal, yang dilanjutkan dengan biopsi jaringan. Kesimpulan: Penggunaan inovasi teknik kombinasi benang jahit dengan pisau bedah dapat digunakan dalam menangani kasus FFH. Eliminasi faktor etiologi berperan penting untuk mencegah terjadinya rekurensi, dan mendapatkan hasil yang optimal. Pemeriksaan biopsi histopatologis berperan penting dalam menegakan diagnosis lesi ini.

Penggunaan inovasi teknik kombinasi benang jahit dengan pisau bedah dapat digunakan dalam menangani kasus FFH.Eliminasi faktor etiologi berperan penting untuk mencegah terjadinya rekurensi dan mendapatkan hasil yang optimal.Pemeriksaan biopsi histopatologis berperan penting dalam menegakan diagnosis lesi ini.

Berdasarkan temuan dalam laporan kasus ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membandingkan efektivitas teknik kombinasi benang jahit dan pisau bedah dengan metode perawatan lain seperti laser dioda atau elektrosurgeri dalam penanganan FFH, dengan mempertimbangkan aspek klinis, estetik, dan biaya. Kedua, studi prospektif dengan jumlah sampel yang lebih besar perlu dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko spesifik yang berkontribusi terhadap perkembangan FFH, seperti kebersihan mulut, maloklusi, atau trauma oklusal, sehingga dapat dirumuskan strategi pencegahan yang lebih efektif. Ketiga, penelitian mengenai penggunaan biomaterial atau scaffold dalam prosedur gingivoplasti setelah eksisi FFH dapat dieksplorasi untuk meningkatkan regenerasi jaringan gingiva dan mencapai hasil estetik yang lebih optimal, terutama pada kasus dengan defek gingiva yang signifikan. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai FFH dan meningkatkan kualitas perawatan pasien.

Read online
File size973.74 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test