POLTEKKES PALEMBANGPOLTEKKES PALEMBANG

Journal of Medical Laboratory and ScienceJournal of Medical Laboratory and Science

Latar Belakang: Berdasarkan laporan kegiatan layanan TB Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) di Rumah Sakit Umum Daerah Cideres penemuan suspek penderita BTA tahun 2021 ada 339 kasus yang dicurigai menderita BTA, 32 di antaranya positif BTA. Tahun 2022, 160 kasus dicurigai menderita BTA, 100 di antaranya positif BTA. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi penderita Tuberkulosis paru BTA Positif di Rumah Sakit Umum Daerah Cideres pada bulan Agustus-Oktober 2023 berdasarkan faktor usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengetahuan tentang TB, kepadatan hunian rumah dan pencahayaan rumah. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelatif. Sampel merupakan penderita Tuberkulosis paru BTA positif di RSUD Cideres Majalengka pada bulan Agustus – Oktober 2023. Hasil: Terdapat 3 karakteristik Pasien kejadian TB positif dengan persentase yang sama yaitu 70%, ada pada karakteristik pendidikan pasien dari SD - SMP, kurangnya pengetahuan tentang TB serta pencahayaan di dalam rumah. Kemudian untuk pasien yang memiliki hunian tak layak didapatkan kejadian TB positif sebesar 67%, pasien dengan rentang usia 41-70th keatas sebesar 63%. Kesimpulan: Terdapat korelasi antara kejadian TB positif di RSUD Cideres Majalengka pada bulan Agustus-Oktober 2023 dengan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan tentang TB dan kepadatan hunian.

Terdapat korelasi antara kejadian TB positif di RSUD Cideres Majalengka pada bulan Agustus-Oktober 2023 dengan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pengetahuan tentang TB dan kepadatan hunian.Usia yang paling banyak terinfeksi TB positif adalah kelompok usia 41-70 tahun, sementara jumlah kasus laki-laki dan perempuan relatif sama.Tingkat pendidikan yang paling banyak terinfeksi adalah SD-SMP, dan sebagian besar pasien tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang TB.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian kualitatif untuk menggali lebih dalam mengenai faktor-faktor sosial budaya yang mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang TB, terutama pada kelompok usia dan tingkat pendidikan rendah. Kedua, penelitian kuantitatif dengan desain kohort dapat dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan kausal antara kepadatan hunian dan risiko penularan TB, dengan mempertimbangkan faktor-faktor confounding seperti ventilasi rumah dan kebiasaan hidup sehat. Ketiga, penelitian intervensi dapat dirancang untuk menguji efektivitas program edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat setempat dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan TB.

Read online
File size207.26 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test