POLTEKATIPDGPOLTEKATIPDG

SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi IndustriSAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri

Permintaan energi terbarukan mendorong eksplorasi biomassa lignoselulosa, seperti kulit nanas, sebagai bahan baku bioetanol. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengevaluasi kinerja reaktor hidrolisis berpengaduk dengan sistem pencacah terintegrasi untuk mengoptimalkan konversi kulit nanas menjadi glukosa. Reaktor berkapasitas 5 liter ini menggunakan impeler Pitched Blade Turbine (PBT) yang dimodifikasi dengan pisau pencacah pada ujung bilah untuk memungkinkan pengecilan ukuran partikel secara in situ. Hidrolisis dilakukan menggunakan H2SO4 1% pada suhu 100°C selama 120 menit dengan kecepatan pengadukan 1.400 rpm. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada kadar glukosa (3,4% menjadi 8,88%), nilai Brix (3,5°Bx menjadi 9°Bx), densitas (0,9998 g/mL menjadi 1,03 g/mL), dan viskositas (1,14 cP menjadi 1,85 cP). Ukuran partikel berkurang drastis dari ±1,03 cm menjadi ±0,02 cm. Integrasi fungsi pencacahan terbukti efektif meningkatkan luas permukaan kontak dan homogenitas reaksi, menjadikannya desain potensial untuk produksi bioetanol berkelanjutan.

Reaktor hidrolisis berpengaduk tipe pitched blade turbine yang terintegrasi dengan sistem pencacah berhasil dirancang dan diuji sesuai perhitungan.Reaktor efektif mengonversi biomassa lignoselulosa dari kulit nanas menjadi glukosa, dengan hasil yang konsisten dan koefisien determinasi (R²) di atas 0,97 antara waktu hidrolisis dengan kadar glukosa serta nilai Brix.Variasi waktu hidrolisis (0–120 menit) berpengaruh terhadap kinerja reaktor.Peningkatan waktu proses menyebabkan kadar glukosa naik dari 3,4% menjadi sekitar 9,0%, nilai Brix dari 3,5 menjadi ±9,0, densitas dari 0,9998 g/mL menjadi 1,03 g/mL, dan viskositas dari 1,14 cP menjadi 1,85 cP.Hal ini menunjukkan peningkatan efisiensi konversi biomassa terhadap glukosa.Sistem pencacah yang terintegrasi dengan pengaduk terbukti efektif memperkecil ukuran partikel kulit nanas dari ±1,05 cm menjadi ±0,07 cm dalam waktu 120 menit.Mekanisme gaya potong dan geser pada sistem pencacah mempercepat keterbukaan struktur lignoselulosa, memperluas area kontak dengan larutan asam, serta menjaga homogenitas slurry selama reaksi berlangsung.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dipertimbangkan beberapa saran berikut: 1. Mengoptimalkan kondisi hidrolisis, seperti konsentrasi asam, suhu, dan waktu reaksi, untuk meningkatkan rendemen glukosa secara lebih efisien. 2. Menganalisis pengaruh ukuran partikel awal pada hasil hidrolisis, dengan melakukan perbandingan antara kulit nanas yang dicacah dengan ukuran partikel berbeda sebelum proses hidrolisis. 3. Mengevaluasi kinerja reaktor dengan menggunakan biomassa lignoselulosa lain, seperti sabut kelapa, untuk menguji efektivitas desain reaktor dalam mengkonversi berbagai jenis biomassa menjadi glukosa. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan dan optimasi reaktor hidrolisis berpengaduk dengan pencacah terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi produksi glukosa dari berbagai sumber biomassa lignoselulosa.

  1. Analisis Kehilangan Inti Sawit Pada Alat Claybath di PT XYZ | SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri.... doi.org/10.52759/sainti.v22i2.48Analisis Kehilangan Inti Sawit Pada Alat Claybath di PT XYZ SAINTI Majalah Ilmiah Teknologi Industri doi 10 52759 sainti v22i2 48
  2. RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA REAKTOR HIDROLISIS BERPENGADUK DENGAN PENCACAH TERINTEGRASI UNTUK PRODUKSI... ejurnal.poltekatipdg.ac.id/index.php/sainti/article/view/63RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA REAKTOR HIDROLISIS BERPENGADUK DENGAN PENCACAH TERINTEGRASI UNTUK PRODUKSI ejurnal poltekatipdg ac index php sainti article view 63
Read online
File size218.1 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test