APPISIAPPISI

Tamasya : Jurnal Pariwisata IndonesiaTamasya : Jurnal Pariwisata Indonesia

Fenomena nongki, istilah sehari-hari untuk nongkrong, telah menjadi bagian integral dari gaya hidup anak muda saat ini. Kegiatan ini tidak hanya tentang menghabiskan waktu tetapi juga berfungsi sebagai media interaksi sosial, pertukaran ide, bahkan pembuatan konten untuk media sosial. Di antara berbagai tempat nongkrong, kedai kopi telah muncul sebagai tempat yang paling disukai oleh anak muda. Kedai kopi dipilih tidak hanya karena penawaran minuman dan makanan ringan tetapi juga karena suasananya yang nyaman dan estetika serta fasilitas pendukung seperti Wi-Fi dan stopkontak. Keunggulan ini menjadikan kedai kopi tempat yang ideal untuk pertemuan sosial, belajar, dan bahkan bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan preferensi anak muda terhadap kedai kopi sebagai tempat nongkrong dan menganalisis faktor-faktor yang membuat mereka lebih unggul dari pilihan lain seperti warung makan, taman kota, atau food court. Temuan observasional mengungkapkan bahwa di luar menu dan lokasi, desain interior, layanan pelanggan, dan aksesibilitas digital adalah penentu utama dalam memilih kedai kopi.

Kesimpulan dari hasil penelitian di atas adalah atmosfer coffeeshop merupakan keseluruhan pengalaman multisensori yang dirasakan pelanggan, dibentuk oleh kombinasi berbagai elemen, baik fisik maupun non-fisik.Elemen-elemen kunci ini meliputi desain interior dan tata letak, pencahayaan, musik dan suara, aroma, kebersihan dan kerapian, pelayanan, serta tingkat keramaian dan kebisingan.Berdasarkan hasil pembahasan dan pengamatan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa coffeeshop kini tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati minuman kopi, melainkan telah berkembang menjadi ruang sosial yang memiliki makna lebih dalam bagi anak muda.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menginvestigasi pengaruh faktor-faktor lain, seperti musik dan aroma, terhadap pengalaman pelanggan di coffeeshop. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen untuk menguji bagaimana perubahan musik atau aroma memengaruhi suasana hati dan perilaku konsumen. Kedua, penelitian dapat memperluas cakupan geografis untuk mengeksplorasi bagaimana preferensi terhadap atmosfer coffeeshop bervariasi di berbagai kota atau wilayah di Indonesia. Dengan membandingkan preferensi di berbagai lokasi, peneliti dapat mengidentifikasi tren dan faktor-faktor kontekstual yang memengaruhi pilihan tempat nongkrong anak muda. Ketiga, penelitian dapat menggunakan pendekatan longitudinal untuk melacak perubahan preferensi atmosfer coffeeshop seiring waktu. Hal ini dapat membantu memahami bagaimana tren gaya hidup dan perkembangan teknologi memengaruhi ekspektasi dan kebutuhan anak muda terhadap ruang sosial.

Read online
File size461.45 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test