UNSIKAUNSIKA

English Ideas: Journal of English Language EducationEnglish Ideas: Journal of English Language Education

Disleksia atau kebutaan kata adalah gangguan membaca perkembangan yang merupakan hasil dari ketidakmampuan untuk memproses simbol grafis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru tentang penggunaan teknik pengajaran multisensori untuk mengajar membaca kepada siswa dengan disleksia. Ini adalah studi wawancara di mana pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur untuk menemukan informasi yang lebih mendalam tentang teknik pengajaran multisensori dalam mengajar membaca untuk siswa disleksia. Peserta penelitian ini adalah seorang guru ortopedagogi yang bekerja di sekolah inklusif. Berdasarkan hasil penelitian, guru tersebut menganggap bahwa kreativitas guru dan media pendukung yang tepat diperlukan dalam menerapkan pendekatan multisensori. Guru juga menganggap bahwa pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya termasuk mencapai tujuan pembelajaran, berpusat pada anak, ramah anak, memotivasi anak dalam belajar, membuat siswa menjadi lebih percaya diri, dan mengoptimalkan perkembangan anak. Kekurangannya adalah biaya mahal dalam menyediakan media pendukung dan alokasi waktu terbatas dalam implementasi.

Pendekatan multisensori dapat membantu siswa dengan disleksia dalam membaca bahasa Inggris, tetapi tidak selalu tepat untuk digunakan dalam setiap proses pembelajaran untuk siswa dengan disleksia.Siswa dengan disleksia memiliki mood swing atau tantrum yang itulah mengapa aktivitas pembelajaran mengajar harus didukung oleh metode kreatif dan variasi serta disesuaikan dengan subjek, tujuan, materi, dan kondisi setiap siswa.Media pendukung yang tepat juga diperlukan dalam menerapkan pendekatan multisensori.Guru juga menganggap bahwa pendekatan ini memiliki beberapa kekurangan.Kelebihannya termasuk mencapai tujuan pembelajaran, berpusat pada anak, ramah anak, memotivasi anak dalam belajar, membuat siswa menjadi lebih percaya diri, dan mengoptimalkan perkembangan anak.Kekurangannya adalah biaya mahal dalam menyediakan media pendukung dan alokasi waktu terbatas dalam implementasi.Untuk menerapkan teknik pengajaran multisensori dalam mengajar membaca siswa disleksia, guru lebih suka menggunakan code switching dan menggunakan berbagai media untuk menyampaikan materi.Guru memulai dengan media konkret dan semi-konkret.Siswa belajar menyalin, mengeja, membaca, dan menulis kata dengan dikte dari guru.Untuk mencegah kemarahan temperamen siswa yang tidak terduga, guru membuat kesepakatan dengan siswa.Guru sering memberikan hadiah sebagai penguatan positif jika siswa dapat melewati proses pembelajaran atau menunjukkan sikap yang baik.Guru juga mengambil catatan untuk mengikuti keberhasilan belajar siswa.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan untuk mengeksplorasi strategi pengajaran alternatif yang dapat digunakan untuk mengajar membaca kepada siswa dengan disleksia, selain pendekatan multisensori. Penelitian ini dapat berfokus pada pengembangan metode pembelajaran yang lebih efektif dan efisien, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik siswa disleksia. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengevaluasi dampak penggunaan media pendukung yang berbeda dalam proses pembelajaran, dan bagaimana media tersebut dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa dalam kelas. Terakhir, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis peran komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam mendukung proses pembelajaran siswa disleksia, dan bagaimana komunikasi ini dapat ditingkatkan untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik.

  1. The Impact Of Using Multi-Sensory Approach For Teaching Students With Learning Disabilities | Journal... clutejournals.com/index.php/JIER/article/view/7502The Impact Of Using Multi Sensory Approach For Teaching Students With Learning Disabilities Journal clutejournals index php JIER article view 7502
Read online
File size535.85 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test