UMUM

Jurnal Sains PsikologiJurnal Sains Psikologi

Procrastination at Work Scale (PAWS) adalah sebuah instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat prokrastinasi yang terjadi pada karyawan. Prokrastinasi dapat membuat karyawan lambat dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh PAWS yang terstandarisasi sehingga dapat digunakan di Indonesia. PAWS terdiri dari dua dimensi, yaitu soldiering dan cyberslacking dengan total 12 item. PAWS dianalisis menggunakan metode confirmatory factor analysis (CFA). Dari hasil analisis ditemukan bahwa PAWS adalah instrumen yang memiliki nilai validitas dan reliabilitas yang baik. Butir-butir yang terdapat di dalamnya juga mampu mengukur tingkat prokrastinasi di tempat kerja. Namun, PAWS disarankan untuk menjadi instrumen unidimensional.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, instrumen Procrastination at Work Scale (PAWS) versi Indonesia merupakan instrumen yang memiliki validitas dan reliabilitas yang baik.Selain itu, butir-butir yang terkandung di dalamnya juga dapat digunakan untuk mengukur tingkat prokrastinasi di tempat kerja, meskipun satu butir telah dihapus.Saran untuk penelitian selanjutnya mencakup penggunaan metode analisis lain dan penambahan uji korelasi dengan variabel-variabel terkait agar instrumen ini dapat digunakan secara komprehensif di lingkungan perusahaan.

Penelitian selanjutnya dapat memperdalam pemahaman mengenai prokrastinasi di lingkungan kerja Indonesia dengan beberapa pendekatan baru. Pertama, mengingat temuan bahwa cyberslacking di Indonesia sering dianggap bermanfaat, penting untuk meneliti lebih lanjut bagaimana persepsi ini terbentuk dan apakah manfaat yang dirasakan tersebut benar-benar memitigasi dampak negatif prokrastinasi. Sebuah studi kualitatif atau campuran metode yang berfokus pada pengalaman karyawan dan manajer dari berbagai sektor dapat mengungkap faktor-faktor budaya dan organisasi yang memengaruhi pandangan ini, serta mengidentifikasi kondisi di mana aktivitas digital non-kerja bertransformasi dari sekadar rekreasi menjadi penunda tugas yang signifikan. Kedua, karena instrumen PAWS versi Indonesia disarankan menjadi unidimensional setelah menghilangkan beberapa butir yang berkaitan dengan prokrastinasi digital, diperlukan penelitian untuk mengembangkan atau mengadaptasi dimensi prokrastinasi digital yang lebih akurat dan relevan dengan realitas perilaku karyawan di Indonesia. Ini bisa mencakup identifikasi bentuk-bentuk penundaan digital yang spesifik dan berdampak negatif, yang mungkin berbeda dari definisi cyberslacking Barat, untuk kemudian diintegrasikan dalam skala pengukuran yang baru. Ketiga, untuk meningkatkan kegunaan instrumen PAWS yang sudah divalidasi ini, penelitian di masa depan sebaiknya fokus pada pengujian ekstensif validitas prediktifnya. Misalnya, bagaimana PAWS unidimensional dapat digunakan untuk memprediksi penurunan produktivitas kerja, tingkat stres karyawan, atau bahkan turnover karyawan di berbagai jenis perusahaan. Selain itu, eksplorasi lebih lanjut tentang apakah ada perbedaan signifikan dalam skor prokrastinasi berdasarkan faktor demografi seperti usia, lama kerja, atau jenis industri juga akan sangat berharga untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang fenomena prokrastinasi di tempat kerja Indonesia.

  1. | PRBM | Dove Medical Press. prbm dove medical press dovepress.com/the-relationship-between-procrastination-perceived-stress-saliva-alpha-peer-reviewed-fulltext-article-PRBMPRBM Dove Medical Press prbm dove medical press dovepress the relationship between procrastination perceived stress saliva alpha peer reviewed fulltext article PRBM
  2. Hubungan Self Efficacy Terhadap Prokrastinasi Guru Pendidik Di SMP N 1 Kretek | Psyche 165 Journal. hubungan... doi.org/10.35134/jpsy165.v13i1.74Hubungan Self Efficacy Terhadap Prokrastinasi Guru Pendidik Di SMP N 1 Kretek Psyche 165 Journal hubungan doi 10 35134 jpsy165 v13i1 74
Read online
File size289.96 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test