UIN Ar-RaniryUIN Ar-Raniry

Jurnal AdabiyaJurnal Adabiya

Pasca runtuhnya Dinasti Abbasiyah tahun 1258 akibat serangan bangsa Mongol, kiblat kekuasaan besar Islam mulai berpindah ke Kesultanan Ustmani dan Imperium Timuriah. Dua kekuasaan besar tersebut masing-masing dipimpin oleh Sultan Bayazid dan Timur Lenk. Perkembangan dan kekuatan yang miliki oleh kedua penguasa ini membawa pada titik dimana mereka saling bersaing dalam menyebar pengaruh politik. Kebijakan untuk saling menggrogoti wilayah pun tidak dapat terelakkan. Puncaknya mereka bertemu dalam perang besar pada tahun 1402 di Ankara. Perang tersebut akhirnya dimenangkan oleh pasukan Timur Lenk dan Sultan Bayazid menjadi tahanan perang. Tulisan menggunakan metode sejarah yang berfokus pada kajian literatur untuk menemukan sumber dan menyajikan jawaban penelitian. Tulisan ini betujuan untuk menguraikan sebab-sebab persaingan politik dan implikasinya bagi dunia Islam saat itu.

Sultan Bayazid dari Kesultanan Utsmani dan Timur Lenk dari Imperium Timuriyah merupakan dua penguasa besar abad ke-15 M yang memiliki ambisi untuk mendominasi dunia Islam.Persaingan politik mereka dipicu oleh ekspansi wilayah, saling memberi suaka kepada musuh, dan pertukaran surat penghinaan, yang juga diperparah oleh intrik Eropa.Puncak konflik ini terjadi pada Pertempuran Ankara tahun 1402 M, di mana Timur Lenk berhasil mengalahkan Bayazid dalam perang saudara Muslim, menandai kemunduran signifikan bagi Kesultanan Utsmani.

Penelitian ini telah menyajikan gambaran komprehensif tentang persaingan politik antara Sultan Bayazid dan Timur Lenk serta dampaknya pada dunia Islam abad ke-15. Untuk melengkapi pemahaman, beberapa arah penelitian lanjutan dapat dieksplorasi. Pertama, menarik untuk mengkaji secara lebih mendalam dampak sosial dan ekonomi jangka panjang dari Pertempuran Ankara terhadap kehidupan masyarakat umum di wilayah Kesultanan Utsmani dan Imperium Timuriyah, misalnya bagaimana perubahan kekuasaan mempengaruhi struktur sosial, jalur perdagangan, atau perkembangan urbanisasi di kota-kota kunci. Kedua, mengingat kedua pemimpin adalah Muslim dan konflik ini disebut sebagai perang saudara antar umat Islam, studi komparatif dapat menelaah bagaimana legitimasi keagamaan dan interpretasi hukum Islam digunakan oleh masing-masing pihak untuk membenarkan ambisi ekspansi dan peperangan mereka, serta bagaimana hal ini mempengaruhi peran ulama dan fatwa pada masa itu. Terakhir, meskipun disebutkan Eropa ikut campur karena dendam pasca Pertempuran Nicopolis, penelitian berikutnya bisa menyelidiki lebih detail motif geopolitik Eropa yang lebih kompleks, bentuk dukungan konkret yang mereka berikan kepada Timur Lenk, dan bagaimana intrik ini membentuk dinamika kekuatan di Mediterania timur dan Asia Kecil. Tiga area ini dapat memberikan perspektif multi-dimensi yang lebih kaya tentang periode krusial dalam sejarah Islam.

Read online
File size126.82 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test