UMSUUMSU

Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP)Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP)

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya istilah baru, yaitu food gender. Masyarakat memiliki pandangan bahwa laki-laki yang menyukai seblak dianggap mengonsumsi makanan yang tidak maskulin. Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah pengalaman yang dialami oleh laki-laki penggemar seblak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menurut Alfred Schutz dan teori konstruksi sosial atas realitas menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki penggemar seblak memiliki pengalaman berbeda meskipun terhadap objek yang sama. Makna seblak bagi mereka adalah: 1) sebagai moodboster, 2) sebagai makanan yang memuaskan, 3) sebagai makanan yang selalu terbayang, 4) sebagai obat, dan 5) sebagai penenang. Motif mereka terdiri dari karena rasa penasaran atau diajak pasangan (because motive), serta untuk mengembalikan mood, menemani pasangan, dan mengurangi stres (in order to motive). Pengalaman mereka meliputi ketidaknyamanan akibat asumsi sosial dan cemoohan dari orang terdekat. Konstruksi sosial yang terjadi adalah anggapan bahwa laki-laki pecinta seblak dianggap tidak maskulin.

Makna laki-laki penggemar seblak meliputi seblak sebagai moodboster, makanan yang memuaskan, makanan yang selalu terbayang, dan sebagai obat.Motif mereka terbagi menjadi motif sebab, yaitu rasa penasaran dan diajak pasangan, serta motif tujuan, yaitu untuk memperbaiki mood, menemani pasangan, dan meredakan stres.Pengalaman yang mereka alami bersifat kurang menyenangkan akibat stereotip gender yang membuat mereka merasa tidak nyaman dan mendapat cemoohan dari lingkungan sekitar.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana media sosial memperkuat atau melemahkan stereotip gender terhadap makanan seperti seblak, khususnya dalam komunitas remaja urban, untuk melihat peran platform digital dalam membentuk norma sosial baru. Kedua, sebaiknya dikaji perbedaan konstruksi sosial seblak di wilayah yang berbeda, misalnya antara perkotaan dan pedesaan, guna memahami bagaimana konteks geografis dan sosial memengaruhi persepsi maskulinitas dalam konsumsi makanan. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang stereotip makanan terhadap identitas gender laki-laki, termasuk kemungkinan munculnya tekanan psikologis atau perubahan perilaku konsumsi sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap tuntutan sosial. Ketiga arah penelitian ini dapat membuka wawasan baru tentang hubungan antara budaya makanan, gender, dan norma sosial yang terus berkembang di masyarakat modern. Dengan memahami dinamika ini, peneliti dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya dekonstruksi stereotip gender yang tidak substantif dan mempromosikan kebebasan individu dalam mengekspresikan preferensi tanpa tekanan sosial.

  1. Telemedicine sebagai Media Konsultasi Kesehatan di Masa Pandemic COVID 19 di Indonesia | Sari | Jurnal... doi.org/10.21107/ilkom.v15i1.10181Telemedicine sebagai Media Konsultasi Kesehatan di Masa Pandemic COVID 19 di Indonesia Sari Jurnal doi 10 21107 ilkom v15i1 10181
  2. TEORI KONSTRUKSI SOSIAL: SEBUAH TEORI BAGAIMANA WARGA NEGARA MEMAKNAI PELAKSANAAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH... publikasi.unitri.ac.id/index.php/fisip/article/view/2265TEORI KONSTRUKSI SOSIAL SEBUAH TEORI BAGAIMANA WARGA NEGARA MEMAKNAI PELAKSANAAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH publikasi unitri ac index php fisip article view 2265
Read online
File size291.55 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test