UIN SGDUIN SGD

Hijai - Journal on Arabic Language and LiteratureHijai - Journal on Arabic Language and Literature

Kesantunan merupakan salah satu kunci agar terjalinnya komunikasi yang lancar. Akan tetapi masih banyak orang yang menggunakan ketidaksantunan sehingga komunikasi menjadi terhambat. Dalam film dubbing One Piece karya Eichiro Oda, peneliti melihat bahwa terdapat fenomena ketidaksantunan berbahasa dalam film tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi dan mendeskripsikan strategi ketidaksantunan positif dan negatif yang terdapat di dalam dialog film dubbing One Piece, dan 2) mengidentifikasi dan mendeskripsikan faktor penyebab ketidaksantunan dari tuturan tidak santun yang terdapat di dalam film dubbing One Piece. Penelitian ini termasuk deskriptif-kualitatif yang mana data yang berupa tuturan dideskripsikan secara rinci. Data diambil dari dialog antar tokoh film dubbing One Piece. Data-data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan metode kontekstual. Hasil penelitian ini ditemukan total 10 tuturan yang mengandung strategi ketidaksantunan positif dan strategi ketidaksantunan negatif, serta ditemukan tiga faktor penyebab ketidaksantunan berbahasa.

Penelitian terhadap film dubbing One Piece menemukan 10 tuturan yang mengandung strategi ketidaksantunan positif dan negatif, masing-masing berjumlah lima tuturan.Substrategi yang paling sering digunakan dalam ketidaksantunan positif adalah menggunakan panggilan yang menghina, sedangkan dalam ketidaksantunan negatif adalah menakut-nakuti mitra tutur.Faktor yang paling dominan menyebabkan ketidaksantunan adalah kesengajaan penutur yang tidak ingin menjaga muka mitra tutur, diikuti oleh faktor kekuasaan dan jarak hubungan.

Pertama, perlu penelitian lanjutan yang mengkaji bagaimana strategi ketidaksantunan dalam film dubbing One Piece memengaruhi perilaku komunikasi penonton anak-anak, khususnya dalam interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah atau keluarga. Kedua, diperlukan studi komparatif yang membandingkan penggunaan strategi ketidaksantunan antara versi asli bahasa Jepang dengan versi dubbing bahasa Arab untuk melihat apakah terjadi pergeseran makna atau intensitas ketidaksantunan akibat proses terjemahan. Ketiga, perlu dikaji lebih dalam mengenai peran karakter dan konteks adegan dalam menentukan pilihan strategi ketidaksantunan, misalnya apakah karakter antagonis cenderung menggunakan strategi tertentu atau apakah situasi konflik meningkatkan penggunaan ketidaksantunan negatif. Penelitian-penelitian ini dapat memperkaya wawasan tentang dinamika pragmatik dalam konteks media populer dan memberikan dasar bagi pengembangan pedoman penyuntingan film untuk audiens muda.

  1. Strategi ketidaksantunan berbahasa dalam film Taksi (1990): kajian pragmatik | Jurnal Genre (Bahasa,... doi.org/10.26555/jg.v5i1.7297Strategi ketidaksantunan berbahasa dalam film Taksi 1990 kajian pragmatik Jurnal Genre Bahasa doi 10 26555 jg v5i1 7297
Read online
File size419.6 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test