STKIPAHSINGARAJASTKIPAHSINGARAJA

Journal of Linguistic and Literature StudiesJournal of Linguistic and Literature Studies

Penelitian ini berfokus pada kata-kata tabu dalam kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana. Tujuan dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui kata-kata tabu, untuk mengetahui bentuk-bentuk tabu, dan untuk mengetahui referensi kata-kata tersebut dalam bahasa Bali yang digunakan di Desa Sesetan. Penelitian ini dirancang dalam bentuk studi kualitatif deskriptif. Informan utama adalah Prajuru desa adat. Informan sekunder pertama adalah Mangku dadya dan informan sekunder kedua adalah Kelian desa adat. Instrumen tambahan lainnya adalah pedoman wawancara. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan prosedur yang disarankan oleh Miles, Huberman, dan Saldana (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Terdapat 30 kata tabu dalam bahasa Bali yang digunakan di Desa Sesetan. Kata-kata tersebut dikelompokkan ke dalam 3 ranah dalam konsep Tri Hita Karana. Terdapat 3 kata dalam Parahyangan; 26 kata dalam Pawongan; dan 1 kata dalam Palemahan. 2) Terdapat 20 kata yang terkait dengan bentuk tabu, termasuk 15 kata terkait nama dan kata tabu, serta 5 kata terkait kata sumpah serapah. 3) Terdapat 11 referensi kata tabu.

Penelitian ini mengidentifikasi 30 kata tabu dalam bahasa Bali di Desa Sesetan berdasarkan konsep Tri Hita Karana, yang terbagi dalam tiga domain.Parahyangan (3 kata), Pawongan (26 kata), dan Palemahan (1 kata).Ditemukan juga 20 kata yang terkait dengan bentuk tabu, terdiri atas 15 kata terkait nama dan kata, serta 5 kata terkait sumpah serapah.Selain itu, ditemukan 11 kategori referensi tabu yang mencakup nama orang tua, nama hewan, nama Tuhan, nama orang yang meninggal, sanak keluarga, penyebutan alat kelamin, aktivitas seksual, alam, penyakit, kata ganti pribadi, dan aktivitas khusus.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang membandingkan penggunaan kata tabu dalam bahasa Bali di wilayah Sesetan dengan wilayah Bali Aga untuk melihat perbedaan pengaruh budaya dan hierarki sosial terhadap pelanggaran tabu secara lebih mendalam. Kedua, sebaiknya dikembangkan studi tentang persepsi generasi muda di Denpasar terhadap kata-kata tabu, khususnya dalam konteks penggunaan media sosial, untuk mengetahui sejauh mana nilai tradisional masih dijaga atau telah mengalami degradasi akibat globalisasi bahasa. Ketiga, perlu ada penelitian yang mengevaluasi efektivitas peran keluarga dan institusi adat dalam melestarikan pemahaman tentang kata tabu melalui pendidikan informal di rumah dan lingkungan banjar, serta bagaimana strategi ini dapat diperkuat dalam konteks perkotaan modern. Temuan dari ketiga penelitian ini dapat membantu merancang program pelestarian bahasa dan budaya Bali yang lebih relevan dan berkelanjutan. Penelitian-penelitian tersebut juga akan melengkapi temuan saat ini yang masih terbatas pada identifikasi kata dan bentuk tabu, namun belum menyentuh dinamika sosial dan perubahan generasi. Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhi hilangnya kesadaran akan tabu, maka intervensi berbasis masyarakat dapat dirancang secara lebih tepat sasaran. Penelitian yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif juga perlu dipertimbangkan untuk mengukur sebaran dan frekuensi penggunaan kata tabu secara lebih luas. Hasilnya dapat digunakan sebagai dasar pengembangan modul pendidikan budaya lokal di sekolah. Fokus pada konteks perkotaan sangat penting karena tekanan modernisasi di daerah seperti Denpasar lebih tinggi. Penelitian lanjutan juga harus mempertimbangkan peran guru dan tokoh adat sebagai agen pelestari bahasa. Dengan demikian, pelestarian bahasa tabu tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi sistem yang terstruktur dan berkelanjutan.

  1. Mental health nursing is stretched to breaking point. mental health nursing stretched breaking point... doi.org/10.7748/ns.30.25.33.s40Mental health nursing is stretched to breaking point mental health nursing stretched breaking point doi 10 7748 ns 30 25 33 s40
  2. Existence of Bali Aga community religion | International Journal of Social Sciences and Humanities. existence... sciencescholar.us/journal/index.php/ijssh/article/view/256Existence of Bali Aga community religion International Journal of Social Sciences and Humanities existence sciencescholar us journal index php ijssh article view 256
  3. Taboo in Balinese Language Spoken in Sesetan Village: A Descriptive Qualitative Study | Journal of Linguistic... jurnal.stkipahsingaraja.ac.id/index.php/jolles/article/view/658Taboo in Balinese Language Spoken in Sesetan Village A Descriptive Qualitative Study Journal of Linguistic jurnal stkipahsingaraja ac index php jolles article view 658
  4. The grammatical versatility of taboo terms | John Benjamins. grammatical versatility taboo terms john... doi.org/10.1075/sl.33.3.04napThe grammatical versatility of taboo terms John Benjamins grammatical versatility taboo terms john doi 10 1075 sl 33 3 04nap
Read online
File size216.39 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test