ITSITS

(IJCSAM) International Journal of Computing Science and Applied Mathematics(IJCSAM) International Journal of Computing Science and Applied Mathematics

Pneumonia adalah penyakit kedua yang paling banyak ditangani di unit gawat darurat. Pneumonia dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahannya menjadi pneumonia viral dan bakterial. Coronavirus (COVID-19) telah menjadi pandemi yang menyebar secara global. Kepanikan selama pandemi menyebabkan banyak orang mendiagnosis sendiri dan menganggap pneumonia biasa sebagai COVID-19. Meskipun memiliki gejala yang hampir mirip, tidak semua pneumonia adalah COVID-19. Pneumonia adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Sebaliknya, pneumonia akibat COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Diagnosis dini COVID-19 dan pneumonia sangat penting untuk melakukan pengobatan optimal. Rontgen dada merupakan metode umum untuk mendeteksi pneumonia dan direkomendasikan untuk kasus COVID-19. Penelitian ini mengusulkan sistem klasifikasi pneumonia termasuk COVID-19 berdasarkan citra rontgen dada menggunakan kombinasi Visual Geometry Group (VGG) dan Long Short Term Memory (LSTM). Kami juga menerapkan koreksi gamma untuk peningkatan kualitas citra rontgen toraks. Dalam sistem yang diusulkan, VGG digunakan untuk ekstraksi fitur, sedangkan LSTM digunakan sebagai klasifikasi. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa sistem yang diusulkan mencapai akurasi sebesar 96,88% dibandingkan metode terkini lainnya untuk klasifikasi pneumonia.

Sistem klasifikasi pneumonia berbasis citra rontgen dada menggunakan pendekatan machine learning dan deep learning berhasil dikembangkan dalam penelitian ini.Kombinasi Gamma Correction dan VGG-LSTM memberikan akurasi tertinggi, yaitu 96,88%, yang lebih baik dibandingkan tanpa penerapan Gamma Correction.Tahap pra-pemrosesan dengan koreksi gamma memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja klasifikasi pneumonia.

Pertama, perlu dikembangkan penelitian untuk mengevaluasi kinerja model pada dataset yang lebih beragam, termasuk populasi dari wilayah geografis dan ras yang berbeda, agar dapat diketahui sejauh mana model bisa digeneralisasi di berbagai kondisi dunia nyata. Kedua, penting untuk mengeksplorasi kombinasi metode peningkatan citra lainnya selain koreksi gamma, seperti CLAHE atau normalisasi kontras adaptif, untuk melihat apakah dapat lebih meningkatkan akurasi deteksi khususnya pada citra berkualitas rendah. Ketiga, perlu dilakukan studi untuk mengintegrasikan model ini dengan sistem diagnosis berbasis klinis yang memasukkan data pasien seperti usia, gejala, dan riwayat medis, untuk menguji apakah kombinasi data citra dan klinis dapat meningkatkan akurasi dan keandalan diagnosis secara signifikan dibanding penggunaan citra semata.

Read online
File size642.41 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test