ONERESEARCHONERESEARCH

Oetoesan HindiaOetoesan Hindia

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap relasi antara pengetahuan dan kuasa yang ada pondok pesantren. Pengetahuan yang dimaksud ini dilacak dengan cara mengidentifikasi berbagai macam media. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap bagaimana motif kuasa yang dimiliki pesantren atas diri santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian genealogi dan metode penelitian kualitatif. Pendekatan geneologi yang digunakan merujuk dari gagasan Michel Foucault. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya metode-metode kuasa yang dimiliki pesantren dalam rangka penundukan santri. Metode tersebut di antaranya adalah penjara santri, sanksi sosial, sanksi dikeluarkan dari pesantren, dan lainnya, yang bertujuan untuk menciptakan tubuh santri yang self-regulated.

Sejak pertama kali masuk pesantren, santri baru langsung dikenai kuasa-pengatahuan.Pertama-tama yang dilakukan pesantren adalah mengidentifikasi diri santri, apakah masuk kategori santri yang sudah memiliki kedisiplinan, ataukah belum.Perbedaan kepemilikian karakter diri inilah yang kemudian menentukan jenis kuasa yang mesti dikenakan pada santri.Berbagai macam operasi kuasa tentu memberikan dampak pada perilaku santri, dan memang inilah yang menjadi tujuan.Dampak ini dapat berbentuk dua macam, yang pertama disiplin, dan yang kedua menolak.Yang kedua inilah dampak yang tidak diharapkan oleh pesantren.Kedua macam itu merupakan bentuk santri setelah ia mendapatkan efek panoptik dari beroperasinya teknik-kuasa tersebut.Santri yang disiplin adalah santri yang dapat mewujudkan idealitas seorang santri ke dalam tubuhnya, ke dalam dirinya dalam bentuk cara berucap, berperilaku, ketepatan waktu, bertingkah laku, hingga berpakaian.Santri yang demikian ini adalah yang sudah dianggap berhasil ditanami sebuah rasa harus disiplin dengan sendirinya, yaitu yang meskipun tanpa terdapat pengawasan secara langsung pun, santri tersebut sudah bertindak disiplin, patuh, produktif, dan tunduk terhadap teknik-kuasa, inilah tubuh yang disebut Foucault sebagai tubuh yang self regulated.Santri yang self regulated ini memiliki kecenderungan merasa ringan, merasa tidak terlalu terbebani dengan aturan-aturan yang ditimpakan padanya, termasuk juga terhadap pengawasan, seperti yang terjadi pada Arif, salah seorang santri, yang dijelaskan pada bab sebelumnya.Kondisi tubuh demikian, perlu digaris bawahi, bukan berarti tubuh yang merasa sama sekali tidak terawasi, akan tetapi intensitas tekanan panoptik yang dirasakan dirinya tidak sekuat jika dibandingkan dengan santri yang memiliki kecenderungan melanggar, sebab ia berada pada “aliran arus yang sama dengan yang dikehendaki oleh pesantren.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana pengetahuan dan kuasa saling berinteraksi dalam konteks pesantren. Selain itu, studi komparatif antara pesantren dengan institusi pendidikan lainnya dapat memberikan perspektif yang lebih luas tentang dinamika pengetahuan dan kuasa. Terakhir, penelitian tentang bagaimana santri merespons dan berinteraksi dengan kuasa yang diterapkan oleh pesantren dapat memberikan wawasan tentang resistensi dan adaptasi dalam konteks pendidikan.

Read online
File size296.22 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test