Tel-UTel-U

JURNAL RUPAJURNAL RUPA

Jeans adalah item fesyen yang telah diproduksi secara massal sejak awal abad ke-20, dimulai di Amerika Serikat. Produksi massal memberikan akses kepada masyarakat luas untuk mengonsumsinya. Meskipun pada awalnya terdapat pernyataan simbolis dalam jeans, seiring dengan perkembangan budaya populer, makna jeans menjadi menyatu sehingga pernyataan simbolis seperti kelas sosial, ideologi, dan sebagainya tidak lagi terkandung. Hal ini menyebabkan jeans tidak memiliki kode budaya spesifik, hal ini juga dialami oleh objek fesyen lainnya seperti flanel, jaket kulit biker, yang dulunya memiliki kode budaya dan hubungan dengan subkultur musik. Pada akhirnya kode-kode ini dikomodifikasi, pelaku industri tidak lagi menawarkan fungsi tetapi menawarkan nilai dan relevansi sosial. Dalam persaingan komoditas ini, merek bersaing untuk membangun nilai dan relevansi sosial. Di Indonesia, satu merek, Peter Says Denim berusaha membangun hubungan antara produknya dan genre musik tertentu. Dalam studi ini, penulis mengambil 3 sampel visual dari gambar promosi yang diterbitkan oleh Peter Says Denim. Sampel visual akan dibandingkan dan kesimpulan ditarik berdasarkan studi pustaka. Kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa konstruksi hubungan dengan jenis musik tertentu masih tersampaikan, pola visual yang terpapar dalam gambar promosi melalui band terlihat serupa. Band yang dipilih untuk materi promosi Peter Says denim adalah band yang memainkan musik emo dan/atau post-hardcore dan merupakan band tingkat internasional, namun hubungan antara jeans dan musik tidak terjalin, karena jeans telah menjadi item fesyen generik, pada akhirnya hubungan yang dibangun adalah antara merek dan musik.

Jeans pada awalnya merupakan manifestasi kelas sosial menengah kebawah, namun makna simboliknya telah terdekonstruksi seiring perkembangan budaya populer dan konsumsi massal.Upaya membangun relasi antara jeans dan genre musik tertentu oleh merek seperti Peter Says Denim tidak menghasilkan kode kultural yang kuat, melainkan membangun asosiasi antara merek tersebut dengan musik atau subkultur tertentu.Pada akhirnya, konstruksi yang terbangun adalah relasi merek dengan musik, bukan relasi jeans dengan musik.

Berdasarkan analisis terhadap konstruksi relasi musik dan jeans oleh Peter Says Denim, beberapa arah penelitian lanjutan dapat dieksplorasi. Pertama, penelitian dapat difokuskan pada bagaimana merek fesyen lain di Indonesia membangun identitas merek mereka melalui asosiasi dengan subkultur atau genre musik tertentu, dan apakah strategi ini efektif dalam menarik konsumen. Kedua, studi mendalam mengenai persepsi konsumen terhadap merek fesyen yang mengasosiasikan diri dengan musik dapat dilakukan, untuk memahami apakah asosiasi tersebut memengaruhi keputusan pembelian dan loyalitas merek. Ketiga, penelitian dapat menyelidiki bagaimana perubahan tren musik dan subkultur memengaruhi strategi pemasaran merek fesyen, serta bagaimana merek dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut untuk tetap relevan. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif mengenai dinamika hubungan antara fesyen, musik, dan identitas merek, serta membantu merek fesyen dalam mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan berkelanjutan. Dengan memahami bagaimana konsumen merespons asosiasi merek dengan musik, merek fesyen dapat menciptakan kampanye pemasaran yang lebih resonan dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan target audiens mereka.

  1. Relasi Popularitas Jeans dan Musik: (Studi Kasus Kota Bandung) | JURNAL RUPA. relasi popularitas jeans... journals.telkomuniversity.ac.id/rupa/article/view/2311Relasi Popularitas Jeans dan Musik Studi Kasus Kota Bandung JURNAL RUPA relasi popularitas jeans journals telkomuniversity ac rupa article view 2311
Read online
File size341.04 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test