POLANKAPOLANKA

Jurnal Kajian Ilmiah Kesehatan dan TeknologiJurnal Kajian Ilmiah Kesehatan dan Teknologi

Kelengkapan pengisian infomed consent sangat penting karena akan mempengaruhi aspek hukum rekam medis dan mutu rekam medis sehingga dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan pengisian informed consent pasien bedah rawat inap Triwulan ke-IV Tahun 2020 di Rumah Sakit Sari Mulia Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif deskriftif dengan rancangan penelitian cross sectional, metode yang digunakan adalah metode observasi dengan memakai alat bantu check list. Pada penelitian ini, teknik pengambilan sampel dengan random sampling, jumlah sampel ada 141 rekam medis pasien bedah rawat inap yang dianalisis, dan seluruhnya masih belum lengkap. Hasil penelitian diperoleh rata-rata angka kelengkapan pengisian berdasarkan review identitas 100%, review catatan yang penting 46,8%, review autentifikasi 90,7%, review catatan yang baik 68%. Dimana Kelengkapan tertinggi pada review identitas yaitu 100% dan kelengkapan terendah ada pada review catatan yang penting yaitu 46,8%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa angka kelengkapan pengisian lembar informed consent pasien bedah rawat inap di Rumah Sakit Sari Mulia Banjarmasin Triwulan ke-IV Tahun 2020 belum mencapai SPM rekam medis di rumah sakit yaitu 100%.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelengkapan pengisian informed consent pasien bedah rawat inap di RS Sari Mulia Banjarmasin pada Triwulan IV 2020 menunjukkan hasil bervariasi.meskipun review identitas mencapai 100% kelengkapan, komponen lain seperti review catatan penting (46,8%), review catatan baik (68%), dan review autentifikasi (90,7%) masih belum mencapai standar kelengkapan 100%.Ketidaklengkapan ini terjadi meskipun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengisian informed consent sudah tersedia dan disosialisasikan kepada tenaga medis.Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan kepatuhan tenaga medis dalam pengisian informed consent agar sesuai dengan standar mutu rekam medis.

Berdasarkan temuan yang menunjukkan adanya ketidaklengkapan signifikan pada beberapa komponen pengisian informed consent, terdapat beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat dieksplorasi. Pertama, untuk memahami akar masalah di balik rendahnya tingkat kelengkapan, studi kualitatif mendalam sangat diperlukan. Penelitian ini dapat berfokus pada faktor-faktor penyebab ketidakpatuhan, seperti beban kerja yang berlebihan, kurangnya waktu bagi dokter, pemahaman yang berbeda mengenai prioritas administratif, atau bahkan kendala dalam sosialisasi dan implementasi SOP yang sudah ada. Pertanyaan penelitian bisa meliputi: Bagaimana persepsi tenaga medis (dokter dan perawat) di RS Sari Mulia Banjarmasin terhadap urgensi dan praktik pengisian informed consent yang lengkap, dan apa saja hambatan praktis yang mereka alami? Hasil dari studi semacam ini akan memberikan wawasan yang lebih kaya untuk merancang intervensi yang tepat sasaran. Kedua, mengingat adanya saran untuk perbaikan SOP terkait penggunaan tanda (-) untuk kolom yang tidak relevan dan metode koreksi kesalahan, penelitian intervensi dapat dirancang. Studi ini dapat mengimplementasikan SOP yang telah direvisi dan kemudian memantau serta mengevaluasi dampaknya terhadap tingkat kelengkapan pengisian informed consent selama periode waktu tertentu, misalnya 6 atau 12 bulan setelah sosialisasi intensif. Pertanyaan yang relevan di sini adalah: Seberapa efektifkah revisi SOP dan program pelatihan berkelanjutan dalam meningkatkan kepatuhan pengisian informed consent hingga mencapai standar kelengkapan 100%? Ketiga, untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan mengidentifikasi praktik terbaik, studi komparatif dengan rumah sakit lain yang memiliki tingkat kelengkapan informed consent yang lebih baik dapat dilakukan. Penelitian ini bisa membandingkan proses, kebijakan, sistem monitoring, dan budaya kerja antara RS Sari Mulia Banjarmasin dengan rumah sakit pembanding. Pertanyaan inti bisa jadi: Apa saja faktor kunci keberhasilan yang dimiliki rumah sakit dengan tingkat kelengkapan informed consent yang optimal yang dapat diadopsi oleh RS Sari Mulia Banjarmasin? Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat ditemukan solusi inovatif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas rekam medis.

Read online
File size1.16 MB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test