IAIN SALATIGAIAIN SALATIGA
Indonesian Journal of Islam and Muslim SocietiesIndonesian Journal of Islam and Muslim SocietiesDebat berkelanjutan seputar usia pernikahan Aisyah dalam hadis telah menghasilkan dua pandangan utama di kalangan para sarjana Muslim, yaitu: pihak yang menolak, yaitu mereka yang menggugat kesahihan hadis dan mengajukan pandangan bahwa Aisyah sebenarnya menikah pada usia yang lebih tua, dan pihak yang membela, yaitu mereka yang mempertahankan hadis-hadis ini sebagai riwayat yang sahih dan menerima pandangan bahwa Aisyah mulai tinggal bersama Nabi pada usia dini, yaitu sembilan tahun. Dalam penelitian ini, kami mengeksplorasi masalah ini melalui argumen-argumen yang berseberangan yang ditawarkan oleh dua sarjana Muslim kontemporer, yaitu: Jasser Auda, yang mewakili pandangan penolak hadis, dan Jonathan Brown, yang mewakili mereka yang menerima keabsahan hadis tersebut. Kedua sarjana ini dipilih karena kontribusi teoretis mereka yang baru dan khas dalam debat yang berlangsung. Tersangkut dalam debat ini adalah permasalahan apakah realitas pra-modern dapat dinilai dengan menggunakan norma-norma modern. Kami menggunakan analisis kritis terhadap aspek-aspek epistemologis dan metodologis yang melingkupi penafsiran kedua ulama tersebut terhadap hadis-hadis tentang usia pernikahan Aisyah.
The issue of Aishas marriage has been a controversial topic since the modern era.It is not unreasonable to say that it will be a perennial source of debate within the Muslim community, given that modernity has become an inherent part of the Muslim identity.Modernity brings with it numerous sensibilities that are not always aligned with the traditional norms of the past.In this article, we have explained how scholars of Islam debate how best to understand the hadith about Aishas marriage at the age of nine.We have explained the general arguments of both critics and defenders of this hadith.Methodological issues related to the formulation of these arguments range from the question of how to authenticate historical narration, to whether traditional methods of authentication are truly reliable.They include a consideration of the extent to which historical narratives can be used to evaluate the validity of hadiths, and whether politics, and in particular, sectarian interests, have been important in shaping Islamic orthodoxy and the narration of hadiths in the formative period of Islam.We discuss these topics through the discourse of Jasser Auda and Jonathan Brown, who represent two different schools of thought and explain the distinctions, interventions, and theoretical contributions they have each made to this issue.We explicitly do not take a stance on the validity of the hadith themselves.Instead, we analyze these academics respective methodologies and unpack their underlying paradigms.Three factors are primarily responsible for shaping their respective discourse.their views of the interplay between politics and knowledge, of Islamic intellectual history, and of the universality of modern norms.This valuable research lies at the intersection of, and therefore potentially contributes to, the fields of hadith studies and the sociology of knowledge.
Berdasarkan analisis kritis terhadap aspek-aspek epistemologis dan metodologis yang melingkupi penafsiran kedua ulama tersebut terhadap hadis-hadis tentang usia pernikahan Aisyah, penelitian lanjutan dapat difokuskan pada tiga arah studi. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana konteks sosial-politik mempengaruhi pembentukan ortodoksi Islam dan kurasi narasi-narasi dominan tentang Nabi. Kedua, studi tentang metode epistemologis dalam menafsirkan tradisi nabi (hadis) perlu dikembangkan lebih lanjut, terutama dalam konteks hubungan antara hadis dan Al-Quran. Ketiga, penelitian tentang asumsi universalitas norma-norma modern dan bagaimana hal ini mempengaruhi interpretasi hadis-hadis tentang pernikahan Aisyah perlu dieksplorasi lebih dalam. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang lebih komprehensif dalam memahami hadis-hadis tentang pernikahan Aisyah dan implikasinya dalam konteks modern.
- 0. pdf obj metadata endobj extgstate procset text imageb imagec imagei annots mediabox contents group... doi.org/10.24035/ijit.21.2022.2290 pdf obj metadata endobj extgstate procset text imageb imagec imagei annots mediabox contents group doi 10 24035 ijit 21 2022 229
- Minimum Marriage Age: Study of Fiqh of Four Madhabs | Britain International of Humanities and Social... biarjournal.com/index.php/biohs/article/view/46Minimum Marriage Age Study of Fiqh of Four Madhabs Britain International of Humanities and Social biarjournal index php biohs article view 46
| File size | 491.48 KB |
| Pages | 30 |
| DMCA | Report |
Related /
PELITABANGSAPELITABANGSA Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan algoritma kriptografi Data Encryption Standard (DES) sebagai metode pengamanan data pelanggan pada sistem informasiPenelitian ini bertujuan untuk menerapkan algoritma kriptografi Data Encryption Standard (DES) sebagai metode pengamanan data pelanggan pada sistem informasi
UNISMUHUNISMUH Dari hasil penelitian ini didapati penerapan program Tahsin Quran sebagai bagian dari continuous improvement sudah mengikuti siklus PDCA. Dalam perencanaanDari hasil penelitian ini didapati penerapan program Tahsin Quran sebagai bagian dari continuous improvement sudah mengikuti siklus PDCA. Dalam perencanaan
IAIN LANGSAIAIN LANGSA Pendekatan ini memperkuat ketahanan keluarga, menyelaraskan praktik peradilan dengan tujuan maqāṣid al-syarīah, serta memastikan bahwa reformasi hukumPendekatan ini memperkuat ketahanan keluarga, menyelaraskan praktik peradilan dengan tujuan maqāṣid al-syarīah, serta memastikan bahwa reformasi hukum
AKABAAKABA Unsur-unsur Pasal 425 KUHP Nasional menjadi 2 (dua), yaitu. Setiap Orang (subjek) dan Dengan Sengaja dibuktikan dengan adanya frasa “Padahal diketahuiUnsur-unsur Pasal 425 KUHP Nasional menjadi 2 (dua), yaitu. Setiap Orang (subjek) dan Dengan Sengaja dibuktikan dengan adanya frasa “Padahal diketahui
STAIDAPONDOKKREMPYANGSTAIDAPONDOKKREMPYANG 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, melalui perspektif Ibn Abdissalām, dengan kerangka kerja muwāzanah sebagai alat analitis untuk menilai keputusan ketika1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, melalui perspektif Ibn Abdissalām, dengan kerangka kerja muwāzanah sebagai alat analitis untuk menilai keputusan ketika
ANTARBANGSAANTARBANGSA Aplikasi ini menggunakan teknologi CodeIgniter 3, Bootstrap 5, dan Pusher untuk komunikasi real-time dengan dukungan database MySQL. Aplikasi ini menawarkanAplikasi ini menggunakan teknologi CodeIgniter 3, Bootstrap 5, dan Pusher untuk komunikasi real-time dengan dukungan database MySQL. Aplikasi ini menawarkan
UBHARAJAYAUBHARAJAYA Platform ini menjadi sumber inspirasi utama dalam bidang fashion, menyediakan konten yang lebih up-to-date dan relevan dibandingkan media sosial lainnya.Platform ini menjadi sumber inspirasi utama dalam bidang fashion, menyediakan konten yang lebih up-to-date dan relevan dibandingkan media sosial lainnya.
IAIN SALATIGAIAIN SALATIGA Penelitian ini bertujuan untuk memetakan bentuk resepsi, faktor yang melatbelakangi resepsi dan dampaknya terhadap wacana publik atas syariat poligami.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan bentuk resepsi, faktor yang melatbelakangi resepsi dan dampaknya terhadap wacana publik atas syariat poligami.
Useful /
UBHARAJAYAUBHARAJAYA Selain itu, subjek penelitian adalah siswa baru yang belum mengalami sekolah online secara penuh. Penelitian ini juga terbatas pada responden kelas X,Selain itu, subjek penelitian adalah siswa baru yang belum mengalami sekolah online secara penuh. Penelitian ini juga terbatas pada responden kelas X,
PELITABANGSAPELITABANGSA Berdasarkan hasil pengujian usability test menggunakan teknik black box, antarmuka pengguna pada prototipe website Kedai Teh Surakartea dinilai layak digunakan.Berdasarkan hasil pengujian usability test menggunakan teknik black box, antarmuka pengguna pada prototipe website Kedai Teh Surakartea dinilai layak digunakan.
DINAMIKADINAMIKA Mitra menghadapi tantangan seperti kurangnya pemahaman manajemen modern, pemanfaatan teknologi digital yang terbatas, serta kesulitan dalam pengelolaanMitra menghadapi tantangan seperti kurangnya pemahaman manajemen modern, pemanfaatan teknologi digital yang terbatas, serta kesulitan dalam pengelolaan
DINAMIKADINAMIKA Ke depan, disarankan agar kegiatan lanjutan difokuskan pada penguatan kapasitas digital aparatur desa secara berkelanjutan melalui pelatihan lanjutan,Ke depan, disarankan agar kegiatan lanjutan difokuskan pada penguatan kapasitas digital aparatur desa secara berkelanjutan melalui pelatihan lanjutan,