POLNAMPOLNAM

JURNAL SIMETRIKJURNAL SIMETRIK

Negeri Passo Benteng Karang, sebuah dusun di Kecamatan Baguala, terletak di daerah perbukitan dengan tanah berbatu, sehingga akses terhadap sumber air tanah menjadi sulit. Meskipun memiliki satu sumur bor dan satu reservoir, masyarakat setempat sering mengalami kekurangan air bersih karena pasokan yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan harian. Untuk mengatasi permasalahan ini, diusulkan solusi yang efisien dan hemat biaya, yaitu sistem pemanenan air hujan melalui atap (rooftop rainwater harvesting/RWH). Penelitian ini menganalisis iklim, curah hujan menggunakan metode Gumbel, kebutuhan air masyarakat, debit rencana menggunakan metode rasional, serta potensi pemanenan air hujan. Hasil penelitian menunjukkan volume air hujan maksimum yang dapat dipanen sebesar 4.133,5 m³/hari saat curah hujan melebihi 100 mm, sementara kebutuhan air bersih harian hanya sebesar 144 m³/hari. Dengan demikian, kebutuhan air bersih di Negeri Passo Benteng Karang dapat terpenuhi sepenuhnya melalui penerapan metode RWH.

Kebutuhan air bersih di Negeri Passo Benteng Karang sebesar 144 m³/hari dapat terpenuhi lebih dari 100% melalui pemanenan air hujan saat curah hujan melebihi 100 mm.Volume air hujan yang dapat dipanen mencapai 4.133,5 m³/hari, jauh melampaui kebutuhan harian masyarakat.Dengan potensi yang sangat besar, pemanenan air hujan merupakan solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah tersebut.

Pertama, perlu dikaji kualitas air hujan yang terkumpul sepanjang tahun, termasuk kandungan polutan atmosfer dan kontaminasi dari material atap, untuk mengetahui perlakuan pengolahan yang diperlukan sebelum air layak digunakan. Kedua, sebaiknya diteliti desain sistem penyimpanan dan penyaringan yang optimal untuk kondisi setempat, termasuk kapasitas bak penampungan dan jenis media filter yang paling efisien dan terjangkau bagi masyarakat. Ketiga, perlu dilakukan studi tentang kelayakan ekonomi dan sosial penerapan sistem pemanenan air hujan skala rumah tangga secara massal, termasuk biaya awal, pemeliharaan, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan keberlanjutannya. Penelitian-penelitian ini akan melengkapi hasil kajian teknis dengan aspek kualitas, desain teknis lanjutan, dan keterlibatan sosial, sehingga sistem dapat diterapkan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Dengan pendekatan terpadu, sistem pemanenan air hujan bukan hanya menjadi solusi teknis, tetapi juga model pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas yang mandiri. Studi lanjutan perlu dilakukan secara integratif untuk memastikan keberhasilan dan replikasi di wilayah serupa lainnya.

Read online
File size785.74 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test