POLNAMPOLNAM

Journal AgregateJournal Agregate

Indonesia berada pada daerah dengan aktifitas gempa yang cukup tinggi, karena aktifitas yang cukup tinggi tersebut dapat merusak sarana dan prasarana penting. Pasca gempa 26 september 2019 dengan magnitude 6.8 tersebut menimbulkan guncangan pada beberapa daerah dimaluku, pusat gempa terletak dipulau seram, menimbulkan begitu banyak kerusakan infrastruktur baik rumah penduduk maupun fasilitas peribadahan, termasuk didalamnya Gedung Gereja Jemaat GPM Sola Sriptura Banda mengalami kerusakan yang cukup parah baik kerusakan struktural maupun non-struktural. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk memperoleh hasil identifikasi berdasarkan tingkat kerusakan yang terjadi. Dalam penelitian ini dilakukan survey dan peninjauan secara langsung yang akan dianalisis atau diolah berdasarkan penilaian tingkat kerusakan yang terjadi dilokasi. Dari hasil identifikasi, tingkat kerusakan bangunan secara keseluruhan mencapai 74% yang berarti kondisi bangunan rusak total. Faktor gempa yang diklasifikasi menurut masing-masing komponen struktur adalah kerusakan struktur kolom sebesar 5%, balok sebesar 16% dan juga kerusakan konstruksi, atap sebesar 4%, plafon sebesar 12%, dinding sebesar 19%, utilitas sebesar 7%, sexta finishing. sebesar 5% sehingga menghasilkan persentase berat seluruh bangunan adalah 74% yang berarti kondisi bangunan tersebut termasuk dalam kategori Rusak Total (RT) karena sebesar 65%, sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.24 /PRT/M/2008.

Berdasarkan observasi dan identifikasi pada Gedung Gereja Jemaat GPM Sola Scriptura Banda di Maluku Tengah, disimpulkan bahwa bangunan tersebut mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi.Kerusakan ini meliputi struktur kolom sebesar 5%, balok 16%, konstruksi atap 4%, plafon 12%, dinding 19%, utilitas 7%, dan finishing 5%.Total persentase kerusakan mencapai 74%, yang mengkategorikan bangunan ini sebagai Rusak Total (RT) sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

Mengingat hasil penelitian ini menunjukkan tingkat kerusakan yang sangat parah pada Gedung Gereja Jemaat GPM Sola Scriptura Banda akibat gempa, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang bisa dilakukan. Pertama, sangat penting untuk melakukan studi mendalam mengenai pilihan metode perbaikan atau rehabilitasi yang paling efektif dan efisien untuk bangunan dengan kategori rusak total seperti ini. Penelitian ini bisa membandingkan berbagai teknologi dan material perbaikan struktur, tidak hanya dari sisi kekuatan teknis tetapi juga dari aspek biaya, kecepatan pengerjaan, dan keberlanjutan. Misalnya, apakah rekonstruksi total lebih baik daripada perkuatan struktur yang ada, dan bagaimana dampaknya terhadap anggaran serta jadwal penyelesaian. Kedua, dengan mempertimbangkan lokasi Indonesia yang rawan gempa, perlu ada penelitian lebih lanjut tentang pengembangan pedoman desain dan konstruksi bangunan ibadah yang tahan gempa, khususnya untuk struktur yang serupa dengan Gereja GPM Sola Scriptura. Ini bisa mencakup eksplorasi penggunaan material lokal yang inovatif atau modifikasi desain arsitektur tradisional agar lebih resisten terhadap guncangan gempa, sembari tetap mempertahankan nilai budaya dan estetika bangunan. Ketiga, melampaui aspek teknis, akan sangat bermanfaat untuk meneliti dampak sosial dan psikologis jangka panjang dari kerusakan bangunan penting seperti gereja terhadap komunitas jemaat. Penelitian ini dapat mengidentifikasi kebutuhan dukungan non-fisik bagi komunitas dan menyusun strategi partisipasi masyarakat yang efektif dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali, memastikan bahwa solusi yang diambil tidak hanya kuat secara struktural tetapi juga responsif terhadap kebutuhan sosial jemaat.

Read online
File size648.28 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test