UMSUMS

Sinektika: Jurnal ArsitekturSinektika: Jurnal Arsitektur

Persepsi individu terhadap ruang kota dibentuk oleh adaptasi fisik yang berkaitan dengan daerah asal mereka. Faktor psikogeografis ini mempengaruhi bagaimana tubuh menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, termasuk terhadap mekanisme homeostasis (kemampuan tubuh menjaga keseimbangan internal), sehingga standar kenyamanan termal tiap orang dapat berbeda. Dalam konteks termal, mekanisme homeostasis ini menjadi pemicu kuat thermal alliesthesia, yaitu kondisi ketika sensasi nyaman atau tidak nyaman dipicu oleh perubahan suhu relatif terhadap kondisi tubuh sebelumnya. Penelitian ini mengambil pendekatan eksploratif yang bertujuan untuk menilai potensi deteksi proses tersebut dalam konteks virtual dengan paparan minimal, menggunakan video observasi lingkungan perkotaan. Structural Equation Modeling (SEM) digunakan untuk menguji hubungan multivariat antara kondisi suasana hati, latar belakang daerah asal, serta persepsi terhadap elemen fisik (kecerahan, keteduhan), beserta dampaknya terhadap kenyamanan rute. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses homeostatis terindikasi tetap dapat terjadi dalam setting virtual dan dipengaruhi secara positif oleh latar belakang psikogeografis, sehingga membuka peluang penerapan dalam perancangan spasial, penelitian lanjutan, dan place branding, bahkan tanpa keterlibatan langsung di lapangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses homeostatis terindikasi tetap dapat terjadi dalam setting virtual dan dipengaruhi secara positif oleh latar belakang psikogeografis.Hal ini mengindikasikan bahwa respons fisiologis terhadap lingkungan dapat terdeteksi bahkan melalui paparan virtual.Temuan ini membuka peluang penerapan dalam perancangan spasial, penelitian lanjutan, dan strategi branding tempat, yang memungkinkan adaptasi terhadap preferensi termal dan psikologis individu tanpa memerlukan observasi langsung di lapangan.Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana faktor-faktor lain, seperti interaksi sosial dan pengalaman masa lalu, memengaruhi persepsi termal dalam lingkungan virtual.

Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan studi yang mengeksplorasi pengaruh variasi tingkat interaksi sosial dalam lingkungan virtual terhadap persepsi kenyamanan termal. Apakah interaksi dengan avatar atau simulasi orang lain dapat memodifikasi respons homeostatik terhadap suhu? Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan model virtual yang lebih realistis, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti tekstur permukaan, suara, dan aroma, untuk melihat apakah stimulasi multisensori dapat meningkatkan akurasi deteksi respons homeostatik. Ketiga, studi longitudinal dapat dilakukan untuk mengamati bagaimana paparan berulang terhadap lingkungan virtual tertentu memengaruhi adaptasi termal dan perubahan preferensi kenyamanan individu dari waktu ke waktu. Dengan menggabungkan pendekatan-pendekatan ini, pemahaman kita tentang interaksi antara psikogeografi, termal alliesthesia, dan lingkungan virtual dapat semakin diperdalam, membuka jalan bagi desain ruang yang lebih adaptif dan berpusat pada manusia.

  1. Assessing pedestrian thermal comfort to improve walkability in the urban tropical environment of Nagpur... doi.org/10.5937/gp28-48166Assessing pedestrian thermal comfort to improve walkability in the urban tropical environment of Nagpur doi 10 5937 gp28 48166
Read online
File size778.81 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test