POLIBATAMPOLIBATAM

JOURNAL OF APPLIED MULTIMEDIA AND NETWORKINGJOURNAL OF APPLIED MULTIMEDIA AND NETWORKING

This study aims to introduce and preserve gonggong batik as part of the local cultural heritage of the Riau Islands through 2D animation. The problem addressed is the declining interest of the younger generation in gonggong batik, which is caused by a lack of promotion and understanding of its cultural value. This research employs a creation-based method, beginning with visual observation of gonggong batik motifs and the collection of relevant literature data. The production process includes (concept development, scriptwriting, storyboarding, pre-production, character design, and batik design), production (creation of visual assets, rigging, animation using cut-out animation techniques, and addition of visual effects), and post-production (compositing, editing, color correction, and addition of audio). The final result is a 1-minute-14-second animated trailer in Full HD resolution, published on YouTube. Through 2D animation that combines visual strength and storytelling, this work is expected to serve as an engaging educational tool supporting efforts to preserve Gonggong batik, while also contributing to the development of local cultural promotion media.

Penelitian ini menghasilkan sebuah video trailer animasi 2D berjudul Nampak Gonggong yang bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan batik gonggong kepada masyarakat luas.Animasi ini menggunakan teknik cut-out animation dan dirancang melalui metode penciptaan.Melalui media animasi 2D yang memiliki daya tarik visual dan kemampuan storytelling yang kuat, karya ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi budaya, tetapi juga turut berkontribusi dalam memajukan industri animasi di Indonesia serta memperluas apresiasi terhadap warisan budaya lokal, khususnya batik gonggong.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam mengenai efektivitas animasi sebagai media pembelajaran dan promosi budaya, dengan mengukur tingkat pemahaman dan minat audiens terhadap batik gonggong setelah menonton animasi tersebut. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan animasi interaktif yang memungkinkan audiens untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar dan eksplorasi motif batik gonggong, misalnya melalui permainan atau simulasi desain batik. Ketiga, studi lanjutan dapat dilakukan untuk mengkaji potensi pemanfaatan teknologi virtual reality (VR) atau augmented reality (AR) dalam memvisualisasikan dan mengapresiasi keindahan batik gonggong secara lebih imersif, sehingga dapat meningkatkan pengalaman pengguna dan memperluas jangkauan promosi budaya kepada khalayak yang lebih luas. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pelestarian budaya batik gonggong dan pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal.

  1. Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan pada Pelanggan Batik Batam di Dekranasda... doi.org/10.32659/jmp.v1i1.197Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan pada Pelanggan Batik Batam di Dekranasda doi 10 32659 jmp v1i1 197
  2. Proses Pembuatan Film Animasi 2D “Pedanda Baka” | Segara Widya : Jurnal... doi.org/10.31091/sw.v8i1.923Proses Pembuatan Film Animasi 2D yCePedanda BakayCAy Segara Widya Jurnal doi 10 31091 sw v8i1 923
  3. Media Promosi Iklan Taman Nasional Komodo melalui Animasi 2D | Ardyan | Jurnal Desain. promosi taman... journal.lppmunindra.ac.id/index.php/Jurnal_Desain/article/view/13144Media Promosi Iklan Taman Nasional Komodo melalui Animasi 2D Ardyan Jurnal Desain promosi taman journal lppmunindra ac index php Jurnal Desain article view 13144
  4. Perancangan Animasi 2D “Robek” Sebagai Media Edukasi Tentang Bakat dan Minat Anak | Afif... doi.org/10.24821/jags.v11i1.11088Perancangan Animasi 2D AuRobekAy Sebagai Media Edukasi Tentang Bakat dan Minat Anak Afif doi 10 24821 jags v11i1 11088
Read online
File size3.84 MB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test